“Verboden Toegang voor Honden en Inlander !” Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk !

Verboden Toegang voor Honden en Inlander, kalimat ini dulu terpampang di kolam renang Hindia Belanda di masa penjajahan dahulu kala. Bukan mengada- ada dan berlebihan bila benar dahulu kita pernah disamakan dengan anjing. Amboi ! rendah betul martabat bangsa ini. Disamakan dengan anjing bukan karena semata- mata kita bangsa jajahan. Bukan karena dulu kita berperang dengan panah dan keris melawan Belanda yang memegang bedil. Melainkan karena dulu kita dianggap bodoh dan terbelakang oleh bangsa Belanda. Ya benar !! Bodoh karena bangsa pribumi dipikirnya tidak mampu memimpin bangsanya sendiri. Sehingga kita perlu dipimpin oleh bangsa Belanda yang lebih maju. Kita perlu seorang bapak, guru dan pembimbing katanya. Dipikirnya kaum pribumi tidak mampu membangun bioskop, gedung, bank, industri, birokrasi dan lain sebagainya. Dari situlah sampai pada titik terendah martabat manusia dari sebuah penjajahan. Bukan penjajahan negara atau wilayahnya, bukan saja pada pemerasan kekayaan alamnya. Melainkan penjajahan pada kepribadiannya. Apa jadinya bila sebuah bangsa kehilangan jiwa, roh dan karakternya ?, yang tidak ada lagi didalam otaknya cipta, rasa dan karsa selain hanya memanggut pada kekuasaan. Pada kondisi demikian, rakyat Indonesia tak ubahnya seperti barang perkakas yang menjadi hiasan kekuasaan penjajah yang megah berkilauan. Mirip dengan onggokan batu dan tanah di pinggiran jalan. Itulah rakyat Indonesia senyata-nyatanya !!
Memasuki kemerdekaan Indonesia yang ke 60 ini, peringatan tulisan itu sudah tidak ada lagi di bumi nusantara ini.

Namun pesan dan roh dari tulisan itu masih terasa adanya. Pesannya adalah, bila bangsa ini diragukan mampu mengelola negara. Bila bangsa ini terbelakang, bodoh, jumud, korup dan segala macam keterbelakangan lain yang menghinggapinya. Kemiskinan masih merajalela, korupsi terus berjalan, harga-harga semakin tinggi, pendidikan layak sukar diperoleh dan lain sebagainya. Bukan maksud mengada- ada bila kebobrokan bangsa ini bermula dan berpangkal dari keterbelakangan mentalnya. Jangan kita menutup mata, jangan kita kaburkan mata hati untuk mengatakan ada yang salah dengan manusia Indonesia ini. Jangan disalah pahami bila suatu negara terbelakang dibayangkan seperti suatu negara yang gersang, kering, tanpa gedung- gedung dan segala perkakasnya itu. Yang terbelakang itu adalah manusianya, people, rakyat ! Bukan karena elite politiknya, bukan anggota DPR-nya, tapi dari apa dia punya ide dan pemikirannya yang terbelakang. Elite politik kita terbelakang bukan karena mereka tidak berpendidikan tinggi. Bukan karena mereka hanya tamat SMU. Tapi dari dia punya jiwa nasionalis dan patriotis itu yang sudah hilang dari dada mereka. Hilang karena rasa bangga dan percaya diri yang berlebihan. Masih percaya diri bila mereka masih punya power politik. Masih punya keyakinan bangsa ini tidak akan bangkrut, bangsa ini kaya, bangsa ini besar dan agung. Seperti ucapan seorang pejabat tinggi di sebuah televisi swasta yang menggelitik hati penulis, “bangsa ini terlalu kaya untuk bisa bangkrut”. Ya ! memang benar bangsa ini terlalu kaya untuk bangkrut, kalau itu pernyataan 50 tahun lalu. Di masa itu belum marak adanya flight kapitaal ( arus kapital ), belum ada internet, globalisasi dan free trade. Memang benar bangsa ini mustahil bangkrut, yang bangkrut itu rakyatnya, masses, people.

Gerakan Pemuda
Kembali lagi ke jaman sebelum kemerdekaan. Waktu dulu, kalimat diskriminasi itu membuat geram banyak pemuda Indonesia. Berdentam di dada dan hati nurani bahwa mereka adalah sejajar seperti bangsa Belanda juga. Kegelisahan akan rasa keadilan mendorong mereka turut mengepalkan tinju melawan penjajahan. Beberapa dari mereka namanya tetap harum hingga kini……. Ki Hajar Dewantara masih berusia 19 tahun saat aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Tulisannya menggugah kesadaran masyarakat Indonesia soal pentingnya hidup bernegara. Dr. Cipto Mangunkusumo masih berusia 26 tahun saat mendirikan Indische Partij, setelah sebelumnya intens mengkritik pemerintah Belanda di media. Jenderal Sudirman berusia 29 tahun saat dilantik menjadi jenderal hingga ia meninggal di usia muda pula, 34 tahun. H. Agus Salim masih berusia 31 tahun saat bergabung dengan Sarekat Islam, hingga kemudian menjadi pimpinan kedua setelah Cokroaminoto. Serta ada W. R. Supratman yang masih berusia 21 tahun saat mencipta lagu Indonesia Raya. Dan nama-nama lainnya yang tidak bisa disebutkan disini. Masa sulit penjajahan waktu itu telah mendidik mata batin mereka….kaum pemuda ketika itu. Bila perang itu adalah pendidikan, bila penjajahan itu adalah pelajaran maka jadilah ia bara api yang banyak menghasilkan mutiara.
Nampaknya sekarang kita tidak akan menemukan lagi pemuda-pemuda seperti itu. Pemuda- pemuda yang hati nuraninya sering gelisah itu sulit kita temukan di kampus-kampus. Atau sulit kita bedakan di tengah-tengah demonstrasi mahasiswa yang sekarang katanya sudah tidak murni lagi. Kini nasionalisme dan patriotisme yang gagah itu hanya akan anda lihat di upacara kenaikan bendera. Nasionalisme itu sekarang seakan hanya ilusi, seperti setetes embun pagi diatas daun didepan teras rumah anda.

An sich…..mungkin sekarang sudah terlambat untuk bicara nasionalisme. Matahari pagi sudah terbit. Jaman globalisasi sudah datang, seiring dengan masuknya terpaan budaya dari barat yang kencang. Bukan main kencangnya terpaan budaya itu ! Musik Rock’n Roll, mode fashion , Hollywood dan MTV sudah memenuhi rongga kepala anak-anak muda ini. Bukannya anti Barat atau konservatif …tapi celakanya pemuda kita lebih Amerika daripada orang Amerika sendiri. Dengarkan musik sambil gaya trendi serasa sudah berada di New York padahal belum tentu pernah keluar negeri. Tidak sadar dalam pikiran mereka bila berasal dari sebuah bangsa yang kecil dan terbelakang. Andai saja mereka tahu sejarah, tentulah timbul kegelisahan didada mereka. Untuk pemuda golongan ini mereka berasal dari keluarga yang mapan, mengenyam pendidikan tinggi, bahkan sampai keluar negeri. Sampai- sampai mereka seperti kehilangan jati diri, asal- usul, karena tidak pernah mendapat gambaran jelas, clear picture tentang nation mereka sendiri. Wajah asli Indonesia tidak akan anda dapatkan di apartemen mewah kawasan Kuningan dan Sudirman di Jakarta itu. Atau hotel- hotel mewah, diskotik, mall yang sering menjadi tempat persinggahan kaum berpunya. Indonesia adalah Aceh yang baru terkena Tsunami, Nias, Ambon yang baru perang saudara, dan Indonesia adalah Papua yang tertinggal pembangunannya.

Bersamaan dengan itu, ada golongan pemuda yang tak berpunya. Yang karena depresi dan lemahnya pemikiran kerap kali dilindas roda zaman. Yang karena lemahnya mereka punya pendirian gampang dihasut ideologi sayap kiri, dan berbagai macam pemikiran sesat; ajaran agama sesat, penyimpangan dan rebelionisme. Mereka apatis terhadap kepemimpinan. Disebabkan mereka sering menjadi obyek dalam pemilu atau agenda setiap pergantian kekuasaan.

Lemahnya Kepemimpinan
    Masih dekat di ingatan kita waktu peristiwa WTC 1999 di Amerika. Osama Bin Laden yang menjadi tersangka terorisme itu lalu menjadi tokoh populer di Indonesia. Wajahnya tertempel di berbagai poster, spanduk, kaos, dieluk-elukan dan dipuja seperti dewa. Ia adalah simbol perlawanan tirani. Tidak lebih dari hati nurani rakyat kecil waktu itu sebagai figur yang mampu melawan kekuasaan maha raksasa. Walaupun tidak pernah rakyat Indonesia bertemu langsung dengannya, ia mendapat simpati karena menjadi sumber inspirasi. Seperti cerita nabi Daud melawan Goliath.
Figur Osama bin Laden itu memberi sinyal pada kita bahwa rakyat ini tidak mempunyai pemimpin. Yang ditunjukkan dengan betapa besar kecintaan rakyat kecil ini terhadap suatu entitas asing untuk dijadikan pahlawannya. Ia tidak mempunyai leader, figur panutan, atau tokoh yang layak diidolakan. Pemimpin bukanlah jabatan Presiden itu atau jabatan Menteri itu. Pemimpin sejatinya ada disekitar kita dan senyatanya langsung dikenali begitu rakyat melihatnya. Seorang pengamat sejarah pernah mengkomentari soal mengapa Raja Romawi, Julius Caesar selalu menang perang. Bukan karena pedangnya yang sakti, atau legiuner tentaranya ataupun kekuasaannya. Bukan pula karena mitos ia manusia setengah dewa. Tidak lain hanya karena kepemimpinannya. Tidak lain karena ia juga turut menghunus pedang bertaruh nyawa bersama para prajuritnya. Bukan seperti raja yang duduk di meja besar mengatur strategi. Pernah dikisahkan ia merelakan tenda peristirahatannya sendiri untuk digunakan merawat prajuritnya yang terluka. Waktu itu silau mata dunia yang memandang kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Silau melihat hingga tidak tahu seberapa besar kedekatan moral dan kesetiaan tentara kepadanya. Tidak cuma bawahan, tapi cinta sampai mati kepada raja itu.

    Kecintaan pada pemimpin seperti itu dulu pernah dimiliki bangsa ini, di jamannya memerangi penjajah. Sejarah pernah mencatat sumbangan spontan rakyat Aceh kepada NKRI berupa uang, perhiasan emas, serta harta benda untuk membeli dua buah pesawat terbang, Seulawah RI. Sumbangan tersebut diberikan dengan sukarela sebagai ilustrasi betapa besar ketulusan rakyat ketika itu. Kecintaan itu pernah hadir karena ada contoh, panutan, kedekatan dan ada kepercayaan. Percaya bila para pemimpinnya tidak akan menggiring mereka ke sebuah paham semu. Percaya bila perang yang mereka perjuangkan akan dapat merubah nasib anak cucu dan keturunan mereka kelak nanti. Percaya bila darahnya tercucur dan nyawanya hilang, itu adalah lebih baik daripada hidup dibawah penjajahan. Tidak ada modal lain dasar perjuangan bangsa di seluruh dunia selain tekad baja, hati dan pikiran seorang leader yang mampu menggerakkan masses, people, rakyat itu ! Yang sungguh-sungguh menggerakkan hati nuraninya. Yang bukan semata-mata berasal dari kekuasaan politik formal.

Pernah dimuat
di Harian REPUBLIKA, 16 Agustus 2005

Satu pemikiran pada ““Verboden Toegang voor Honden en Inlander !” Anjing dan Pribumi Dilarang Masuk !

Tinggalkan Balasan ke Berita Lembar Selatan Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.