Mengapa Publik Enggan untuk menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah ?

Untuk menciptakan kampanye media massa yang efektif untuk bisa memotivasi masyarakat umum untuk menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Pertama kita mesti menjawab pertanyaan mengapa ada publik atau masyarakat yang enggan untuk menerapkan protokol kesehatan tersebut ? Untuk ini perlu dikembangkan beberapa hypotesa (dugaan). Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat massal dalam stratifikasi sosial yang dimaksud adalah masyarakat kelas bawah ; ekonomi menengah kebawah, pendidikan kurang (less educated), dengan jumlah populasi paling besar dan lain – lain.

Mengapa ada orang – orang yang walaupun diperingatkan berkali – kali akan bahaya COVID lewat smartphone, sosial media, media massa, dst. Tetap tidak mau mematuhi social distancing, mencuci tangan, memakai masker dan protokol kesehatan lainnya ? Walaupun peringatan tersebut adalah buat kesehatan mereka sendiri.

Survival Instinct – Yang pertama adalah karena insting untuk bertahan hidup. Karena bagi masyarakat yang kehidupan perekonomiannya kurang. Penghasilan yang pas – pasan untuk menafkahi hidup. Sehingga bila social distancing yang dimaksud bisa mengakibatkan mereka kehilangan mata pencaharian. Apalagi untuk menafkahi anak dan istri. Maka Survival Instinct mereka disitu sudah mengalahkan ketakutan mereka terhadap COVID. Oleh karena itu segala macam bentuk kampanye COVID melalui media massa yang mempromosikan ketakutan terhadap penyakit tidak akan berdampak terhadap orang – orang seperti ini. Malahan segala bentuk penyebaran informasi yang menebarkan ketakutan adalah tidak menarik bagi mereka dan dijauhi seperti ketakutan itu sendiri.

Yang Kedua adalah karena Faktor Cuek atau tidak mengacuhkan. Orang yang berprilaku seperti ini adalah karena terdorong oleh faktor kebiasaan dan tidak memiliki kesadaran kesehatan (Health Awareness). Termasuk dalam kategori ini adalah orang – orang yang tidak meyakini eksistensi virus tersebut. Atau setengah meyakini, tahu tapi masih ragu – ragu.


Low Sense of Duty – Yang ketiga adalah karena “Low Sense of Duty”, yaitu rasa ingin memberikan sumbangsih kepada masyarakat yang rendah. Hal ini terjadi adalah karena pemerintah tidak mengedukasi rakyatnya untuk turut berperan serta memberikan sumbangsih kepada masyarakatnya sendiri dan negara sedari awal. Sehingga membuat himbauan – himbauan pemerintah terkesan diabaikan seperti nada sumbang. Dari pengelompokan ketiga orang tersebut. Maka kita bisa mulai melihat secara garis besar ada tiga type orang yang berbeda – beda didalam hypotesa kita.

Fear and Hope (Harapan dan Ketakutan) – Karena pelbagai himbauan kampanye COVID sepanjang penglihatan saya adalah berbasis “Fear” (Ketakutan). Yang menyebarkan betapa bahayanya virus tersebut, pandemi global, bahaya penularan dan lain – lainnya. Ex : Berapa jumlah terjangkit, berapa jumlah yang meninggal, dampak penularan, gejala – gejala. Karena “Fear” (Ketakutan) adalah kebalikan dari “Hope” (Harapan), maka pesan – pesan ini sebenarnya semakin menutupi pikiran dan perasaan publik terhadap “Hope” (Harapan). Terutama bagi para korban dan keluarga korban, pesan – pesan kampanye COVID yang seperti itu semakin memperburuk pikiran dan perasaan mereka sendiri. Publik semestinya diberi kesempatan untuk “Hope” (Harapan), untuk bisa melihat kemungkinan – kemungkinan lain yang cerah didepan mereka. Seperti sudah berapa banyak korban yang sembuh ? Negara apa saja yang sudah kembali Normal dari COVID ? Korban yang berhasil sembuh dari COVID, kota- kota atau provinsi yang sudah bebas dari PSBB. Dan lain – lain. Karena pesan – pesan yang basisnya menyebarkan ketakutan sebenarnya adalah Toxic (racun) buat pikiran manusia. Membuat kita saling curiga mencurigai sesama. Menimbulkan perasaan was- was dan tidak bermanfaat. Sebagai individu saya tidak melihat ada manfaatnya untuk mengetahui : update data berapa jumlah korban terjangkit COVID, Jumlah korban meninggal, tokoh siapa yang meninggal karena COVID, dll. Walaupun niatan awalnya yang menyebarkan informasi tersebut di media massa adalah baik; yaitu untuk meningkatkan kewaspadaan dan supaya masyarakat mematuhi protokol kesehatan supaya pandemi COVID bisa berakhir. Tapi mungkin adalah karena ketidaktahuan (ignorance) kita bahwa publik sebenarnya bisa diajak dan ditingkatkan kesadarannya lewat kerjasama. Bukan lewat rasa takut. “Now we must look at the facts” – “Tapi sekarang, kita mesti melihat fakta – faktanya”. Faktanya ada 287 ribu kasus COVID di Indonesia dalam waktu 6 bulan terakhir. Yes, faktanya ada banyak sekali kasus COVID dalam 6 bulan terakhir. Dan bisa jadi dalam 6 bulan berikutnya akan menjadi 574 ribu. Yes, kemungkinan itu tetap ada. Tetapi kita mesti menyadari bahwa prediksi terhadap kejadian – kejadian di masa depan itu bukanlah ranah logika manusia. Usaha – usaha manusia lewat pelbagai analisa, pemikiran dan teori – teori untuk memprediksi masa depan akan senantiasa menemui kegagalan. Dan kalaupun ada yang berhasil, itu terjadi karena kebetulan. Hal – hal tak terduga sering sekali terjadi diluar ekspektasi manusia. Sebagaimana kata pepatah, ”manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan”. Terlepas dari kemungkinan akan ada peningkatan kasus COVID, tetap ada kemungkinan – kemungkinan lain yang lebih baik. Kemungkinan peningkatan kasus tersebut hanyalah 1 dari sekian juta probabilitas yang mungkin terjadi. Keadaan bisa berubah – ubah demikian juga angka statistik, tapi karena rasa takut manusia menjadi terhalangi untuk bisa melihat kemungkinan – kemungkinan lain yang cerah didepannya. Untuk analogi, seumpama saya berhasil menurunkan berat badan 5 kg dalam 1 bulan. Belum tentu saya akan turun berat 5 kg dibulan depannya. Dan dibulan depannya lagi 5 kg. Seumpama saya menjadi menafsirkan data statistik saya turun berat 5 kg di bulan- bulan seterusnya dengan berat badan saya sekarang 80 kg , maka dalam 16 bulan berat badan saya akan menjadi 0 kg. Eksistensi saya tentu menjadi lenyap di dunia ini.

Informasi – informasi yang disebarkan dengan basis “Fear” disebarkan dengan niat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Pandemi dan kesehatan mereka. Dan supaya mereka mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Tapi kita mesti memahami ada orang – orang yang tidak bisa ditakut – takuti yaitu yang golongan pertama tadi. Sehingga komunikasi massa yang memberikan pesan akan dampak virus tersebut tidak berdampak buat mereka. Sementara ada golongan publik yang bisa ditakut – takuti untuk mematuhi protokol kesehatan tersebut. Orang – orang semacam ini kita golongkan sebagai orang keempat. Oleh karena itu dengan hipotesa tersebut kita sudah menetapkan pendekatan filosofis. Untuk memberikan pesan dalam komunikasi massa kita.


Gratitude – Kebanyakan orang sulit mengakui, bahkan kepada diri mereka sendiri, bahwa sesungguhnya semua perbuatan yang mereka lakukan adalah karena mengharapkan ungkapan terima kasih (rasa syukur) dari orang lain. Seorang seniman yang melukis, seorang olahragawan, ilmuwan, seorang pengarang bahkan seorang tentara yang mempertaruhkan nyawanya jika ditanya apa yang memberinya motivasi untuk melakukan hal – hal yang dilakukannya ? Mereka akan memberi pelbagai macam jawaban ; yang intinya adalah karena idealisme dan kebutuhan hidup. Tapi jawaban yang terdalam sesungguhnya adalah mereka mengharapkan rasa syukur atau ungkapan terima kasih dari orang lain. Semua manusia saling mengharapkan rasa syukur sesamanya terhadap satu sama lain. Dengan kata lain semua perbuatan manusia didorong karena mengharapkan “gratitude” (rasa syukur) dan “approval” (persetujuan) dari sesamanya. Bahkan seorang perampok pun, pada akhirnya mencari “gratitude” (rasa syukur) dan “approval” (persetujuan) dari sesama rekan – rekan komplotannya.


Gratitude adalah motivator terbesar manusia. Yang mendorong manusia diawal sebelum motivasi – motivasi yang lain muncul. Oleh karena itu untuk golongan yang type 1 sampai 3. Disampaikan pesan komunikasi massa gratitude “ungkapan terima kasih” untuk memotivasi publik mematuhi protokol kesehatan pemerintah. Alih – alih daripada menggunakan “Fear based communication”, kita harus menggeser pesan komunikasi kita menjadi “Gratitude based communication”. Untuk golongan yang pertama, pokok temanya berisikan pesan ber terima kasih kepada para pedagang, karyawan , pedagang kaki lima, dan lain – lain. Yang telah kehilangan pekerjaannya, kehilangan mata pencahariannya dan yang usahanya telah mengalami kerugian namun tetap mematuhi protokol kesehatan COVID. Ex : “Kepada para pedagang, karyawan, pedagang kaki lima dan pengusaha. Kami berterima kasih atas kesabaran dan kesadaran anda semua walaupun ditengah – tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi yang sedang kita hadapi bersama. Anda tetap tegar dan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Kita akan lewati masa sulit ini bersama- sama !”.


Untuk golongan yang kedua dan ketiga. Mereka adalah orang yang memiliki kesadaran kesehatan (health awareness) yang rendah dan “Sense of Duty” yang rendah. Oleh karena itu, diberikan pokok pesan yang berisikan rasa terima kasih atas sumbangsih yang telah mereka berikan kepada masyarakat dengan mematuhi protokol kesehatan COVID. Dengan memberikan rasa syukur kepada mereka kita ingin memberi mereka perasaan bahwa dengan mematuhi norma – norma baru dari protokol kesehatan tersebut mereka merasa telah memberikan sumbangsih yang berharga kepada masyarakat mereka sendiri. Sehingga, kemudian mereka merasa dipercaya. Karena mereka merasa dipercaya untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakatnya sendiri, mereka menjadi saling mengingatkan atas sesama mereka sendiri. Tapi kali ini bukan atas dasar rasa takut, melainkan karena rasa ingin memberikan sumbangsih kepada lingkungan atau masyarakatnya sendiri. Ex : “Kepada para anak – anak muda, laki – laki dan perempuan semuanya. Kami berterima kasih atas dukungan kalian dengan mematuhi protokol kesehatan COVID. Kalian telah memberikan sumbangsih yang berharga buat lingkungan, masyarakat dan negara kalian. Kalian juga telah saling mengingatkan satu sama lain. Terima kasih !”


Untuk golongan keempat, mereka adalah orang – orang yang sudah mematuhi protokol kesehatan tapi berdasarkan rasa takut. Untuk orang – orang ini kita mesti mengajak mereka untuk melihat “hope” (harapan). Terlepas dari fakta – fakta pandemi yang buruk. Masih banyak fakta – fakta lain yang membaik. Oleh karena itu, baik dan buruk itu tergantung kemana kita memfokuskan perhatian kita. Ex : Kota Wuhan yang menjadi awal mula COVID sekarang sudah normal kembali, COVID tidak menimpa seluruh dunia ada 10 negara yang bebas COVID, untuk Indonesia sendiri sampai sekarang dari 18 provinsi berkurang menjadi 7 provinsi yang memberlakukan PSBB, sebagian yang terjangkit ternyata bisa sembuh, dan lain – lain semua fakta – fakta yang ditemukan yang bisa membangkitkan harapan publik mesti dikemukakan. Untuk bisa memberi keyakinan kepada publik bahwa kita sebagai masyarakat dan negara mampu melewati pandemi ini.


Paling tidak hypotesa ini bisa memberi rangkuman bagaimana pesan kampanye media massa yang lebih mengena kepada sasaran (dalam pandangan saya). Walaupun sebenarnya mesti diteliti kembali apakah ada golongan kelima , keenam dan ketujuh dan seterusnya… Dan mestinya bisa diteliti lebih jauh lagi dengan analisa kuantitatif tentang seberapa besar kedalaman (retention) penolakan terhadap protokol kesehatan COVID dari golongan 1 s/d 3 tersebut. Untuk golongan 1, secara kuantitatif seberapa besar “Survival Instinct” mereka mengalahkan ketakutan mereka terhadap COVID ? Untuk golongan 2, seberapa besar rasa “cuek” mereka untuk mengabaikan himbauan pemerintah ? Untuk golongan 3, seberapa besar “Low Sense of Duty” mereka ? Hal ini tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut sebagai bahan kajian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.