Pengaruh Rating bagi Content Televisi

Ditulis pada 27 September 2017

“Aduuuh pusing banget gue…ntar lagi bakal punya anak gue nihhh” // “kenapa gak pakai kondom sih loe waktu itu ?” demikian dua line dialog sinetron yg tayang disebuah televisi swasta. Adegan yg dimainkan oleh dua pemain sinetron ganteng Roger Danuarta dan Jonathan Frizzy ini, menceritakan Roger yg baru saja kebablasan menghamili pacarnya. Dialog ini cukup memprihatinkan kita, tidak hanya karena target audiens sinetron tersebut yang diperuntukkan pada para remaja. Melainkan pengikisan moral dan norma masyarakat kita melalui media yang biasa dilihat jutaan pemirsa di seluruh nusantara….., Media Televisi. Hubungan seksual yang biasa dilakukan oleh pasangan suami – istri itu, seolah ditanggapi ringan saja karena pacar lelakinya yg tidak memakai kondom.

Berkaitan dengan isi sinetron diatas, Praktis rating adalah faktor utama yang mempengaruhi content media televisi. Selama ini, rating yang berfaedah sebagai tolak ukur bisnis televisi juga berperan dalam pembusukan televisi secara perlahan. Tiap- tiap stasiun televisi berusaha memperebutkan kue rating televisi. Semakin besar share-nya, dapat diasumsikan bakal semakin besar pula pemasukan pendapatan dari iklan. Para produser televisi harus dapat sebaik mungkin mencuri perhatian pemirsa dengan tujuan mencari penonton sebanyak- banyaknya. Beragam konsep kreatif pun dibuat, bintang- bintang baru dimunculkan, setting studio baru, tata cahaya, jalan cerita baru, dan lain sebagainya. Namun begitu semua hal itu mencapai batasnya, para produser televisi beralih mengumbar sensasi murahan dan memanipulasinya berulang- ulang. Lupakan soal membangun image program ….! atau omong kosong jangka panjang bla bla bla itu ! Memang toh terbukti, sensasi pada sebuah program televisi lebih cepat memberikan hasil pada angka- angka rating.

Ditambah lagi dengan begitu banyaknya stasiun televisi di Indonesia semakin menambah sedemikian ketatnya persaingan dunia penyiaran Indonesia. Sebelumnya banyak orang menganggap bahwa semakin banyak stasiun televisi swasta maka diharapkan akan semakin banyak program- program televisi yang bagus bermunculan karena persaingan industri tersebut. Seperti layaknya yang biasa terjadi pada industri retail, atau barang dan jasa lainnya. Namun justru sebaliknya, kue iklan televisi menjadi semakin susah untuk diperebutkan. Yang kemudian menyebabkan sumber daya sebuah stasiun televisi menjadi semakin terbatas untuk berinvestasi menciptakan program- program unggulan. Yang berujung pada semakin agresifnya stasiun televisi mengumbar sensasi dan pop ( low ) culture.

Degradasi Moral di Media Televisi

Sinetron kita kebanyakan di televisi menyajikan kisah perselingkuhan, istri yang tidak setia, ibu tiri yang kejam, suami yang suka memukuli istri, pacaran anak remaja atau anak muda yang cenderung menampilkan nilai- nilai hedonisme dan adegan – adegan yang tidak senonoh nan sensasional lainnya. Di sisi lain kemewahan dan kecantikan menjadi standar kebahagiaan. Televisi berkali – kali memberikan impresi kepada masyarakat luas bahwa kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan memiliki sebuah rumah mewah lengkap dengan kolam renang. Ditambah dengan pacar atau kekasih yang cantik ( tampan ) yang kaya. Disertai mobil mewah lengkap dengan sopirnya.

Tayangan mistik dan dangdut, Tayangan mistik berjamuran di televisi kita mengajak masyarakat kita untuk mempercayai tahayul, dukun dan paranormal. Dampak dari tayangan – tayangan ini yang terberat adalah buat orang- orang yang sedang ditimpa kesulitan hidup : kesulitan ekonomi, ditimpa musibah dan orang – orang sejenisnya yang membutuhkan harapan hidup lebih mudah percaya kepada mistik. Sementara pertunjukkan musik dangdut di televisi hanya bisa menampilkan gerakan erotis dan pamer paha ketimbang apresiasi terhadap seni itu sendiri.

Tayangan Games dan Quiz, tidak semua program quiz itu jelek. Namun tayangan games atau quiz memiliki potensi untuk men- demoralisasi masyarakat karena konsepnya yang secara implisit menampilkan betapa mudahnya mendapatkan uang. Uang sudah disembah seperti layaknya Tuhan. Seperti yang sudah ada pada sebuah program televisi, orang rela memakan kecoak dan mau disiarkan demi mendapatkan sejumlah uang.

Infotainment: kebanyakan materi yang disajikan adalah berita soal kehidupan pribadi selebritis, dan yang sangat mengganggu adalah disebuah stasiun televisi dapat menyajikan berita yang sama dan diulang-ulang terus, yang berbeda hanya nama programnya saja. Kebanyakan isi narasinya tendensius dan cenderung mencari – cari kejelekan seorang selebritis. Seolah mengajak orang untuk berprasangka buruk terhadap seseorang selebritis yang lama kelamaan menjadi stereotype bahwa artis seluruhnya berprilaku buruk.

kriminal: semua berita-berita kriminal menjadi bahan utama dalam acara ini, orang yang membunuh temannya karena tersinggung, cucu yang membunuh nenek demi uang, perampokan, pemerkosaan, penggerebekan tempat-tempat maksiat adalah tema-tema standar yang disajikan dalam acara ini. Secara tidak langsung tayangan ini turut berdampak menyebarkan rasa tidak aman, rasa saling curiga – mencurigai, saling tidak percaya, sinisme dan skeptisme.

Tidak Ada Acuan Pendukung

Hingga saat ini, tidak ada sarana tolak ukur bagi industri televisi untuk menilai kualitas sebuah program kecuali rating. Konsep rating itu sendiri adalah usaha untuk menghitung jumlah penonton terbanyak yang menonton sebuah program. “Jadi konsepnya seperti pemilu siapa yang memilih dia paling banyak , dialah yang paling baik programnya”, ujar Jack Loftus humas Nielsen USA dalam sebuah wawancara. Sehingga diharapkan masing- masing stasiun televisi mengetahui mana saja program – program yang disukai masyarakat dan mana yang tidak. Dan kemudian dapat membuat program- program televisi yang semakin baik.

Tetapi pada kenyataannya, banyak program- program televisi yang berselera rendah, tidak bermutu dan tidak memiliki apresiasi seni justru mendapatkan rating yang tinggi. Kenyataannya rating atau pencapaian penonton terbanyak tidak hanya bisa didapat dengan mutu program yang dibangun dengan susah payah. Tayangan – tayangan yang mengumbar seks atau masuk kategori semi- pornografi, tayangan perdukunan dan mistik, berita gosip ( kabar bohong ) di infotainmen, kontes banci, pacaran anak SMU dan sebagainya yang mampu memberikan sensasi instan ( instantenous sensation ). instantenous sensation dalam tayangan televisi ibarat doping mujarab yang kemudian mampu memberikan hasil lebih cepat, lebih mudah dan yang paling utama : lebih murah.

Program- program televisi yang menjaga etika dan tanggung jawab sosialnya kepada pemirsa justru sering mendapat rating rendah atau memiliki performa dibawah tayangan yang mengumbar sensasi tersebut. Dengan segera, program – program ini pun kemudian dicopot dari jam tayang dan ditinggalkan oleh para praktisi televisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.