Visi dan Misi untuk memperbaiki kualitas dan pelayanan TVRI sebagai TV Publik

Dibuat untuk memenuhi persyaratan administrasi lamaran kerja sebagai Dewan Direksi Televisi Republik Indonesia th 2006

Visi sebagai Direktur Utama :

  1. Menjadikan TVRI sebagai televisi yang kompetitif.
  2. Menjadikan TVRI sebagai lembaga usaha yang sehat.
  3. Menjadikan TVRI sebagai lembaga penyiaran yang terpercaya dan berwibawa.

Misi :

  1. Mengupayakan pencapaian rating dan sales iklan dengan jumlah yang cukup signifikan.
  2. Melakukan manajemen asset ; baik tangible maupun intangible.
  3. Mengupayakan kontrol keuangan dengan pembukuan yang akurat.
  4. Menjalin komunikasi, hubungan baik dan kerjasama dengan televisi swasta yang sudah ada; baik yang mengudara nasional maupun lokal.
  5. Menyiarkan informasi yang benar.
  6. Menyiarkan informasi yang proporsional ; baik secara exposure dan content.
  7. Menyiarkan informasi yang berimbang ; tidak sepotong- potong. Demikian poin 5 s/d 7 sebenarnya merupakan satu kesatuan.

Usaha – usaha yang dilakukan

1. PROGRAMMING

Competing Media
TVRI sekarang sudah harus berubah dari government media menjadi competing media. Walaupun tak dapat dipungkiri bila TVRI harus menyuarakan pesan – pesan dari pemerintah ( government messages ), namun ia harus memperhatikan competing messages dari media lain yang notabene adalah competitornya. Dengan demikian, persaingan adalah hal yang wajar dan harus mau dilalui TVRI bila ia hendak survive. Competing messages dalam dunia televisi terkini berpokok pada satu kutub, yaitu ‘hiburan’. Semua sisi dalam program televisi harus mengandung unsur hiburan. Bahkan pembaca siaran berita sekarang sudah berganti dari yang dengan format formal dan berwibawa menampilkan pembaca- pembaca berita yang cantik dan tampan. Efek grafis dari sebuah ID program juga dibuat dengan tampilan indah dan elegan.
Penelitian di Amerika, sekitar tahun 1970 an ( Peter Sandman, David M. Rubin, and David B. Sachsman. 1972. Media an Introduction of American Mass Communications. Prentice-Hall United States ) memaparkan media televisi membutuhkan Mass Culture atau Pop Culture dalam penyiarannya. Untuk mendapatkan penonton dan bisa terus survive, ia harus terus- menerus menyiarkan Pop Culture; budaya pop atau kata lainnya adalah Low Culture atau budaya rendah. Televisi yang menyiarkan pop culture, praktis dia yang akan memenangkan persaingan. Sementara para pengamat komunikasi masih berargumentasi mengenai apa – apa yang etis dan tidak ditayangkan di televisi. RCTI sudah menangguk keuntungan dari penayangan program Indonesian Idol. Trans TV melihat peluang dengan membuat talk show, ‘Dorce Show’. Infotainment sudah menjamur di semua stasiun televisi. (dalam text book academic komunikasi , program ini semua tergolong pop culture atau low culture). Kita memang agak sedikit telat mempelajari nature of the medium yang satu ini. Fenomena menarik lagi sebenarnya sudah ditanggung TPI ‘Televisi Pendidikan Indonesia’ yang dahulu menyiarkan pelajaran – pelajaran pendidikan untuk anak- anak sekolah. Yang ternyata tidak membuahkan hasil, TPI tidak memperoleh penonton sampai akhirnya sekarang kerap gencar menampilkan program goyang dangdut, malah berhasil menarik perhatian penonton.
Dengan demikian, selawas pandang kedepan pemimpin televisi di Indonesia ini adalah menemukan karakter pop culture masyarakat Indonesia. Tak terlepas dari faktor sosio-kultural tentunya. Mengusahakan stasiun TVRI untuk menampilkan beragam program hiburan yang sudah ada di televisi swasta lainnya dari kategori yang sudah familiar di mata pemirsa hingga saat ini; variety show, talk show, comedy, infotainment, reality show, konser musik ; pop, rock, dangdut, dan lain- lainnya.

Strategi Programming
Strategi programming juga mesti melihat apa- apa yang sedang dilakukan oleh competitor. Dan apa yang sudah dilakukan oleh competitor. Dan mengantisipasi hal – hal yang akan dilakukan competitor. Untuk itu perlu adanya strategi scheduling dan penempatan program yang diperkirakan akan mampu memukul program competitor pada jam yang sama. Hal itu mungkin dilakukan jika saja kita mau memeriksa data rating competitor dengan lebih seksama. Rating yang besar pada sebuah program menggambarkan bahwa ia memiliki jumlah penonton yang besar, namun belum tentu ia memiliki penonton yang setia. Angka standar deviasi akan menunjukkan bahwa ia memiliki penonton setia atau tidak. Bila angkanya besar, berarti sebagian besar jumlah penontonnya masih dapat direbut. Hal inipun biasa dalam strategi scheduling televisi.

Bekerjasama dengan televisi Swasta Lokal
TVRI dapat menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik dengan televisi swasta lokal yang sudah ada. Kerjasama bisa dijalin dengan berbagai bentuk ; barter program, membeli atau menjual program, melakukan relay bersama, dan lain- lain. Kerjasama masih mungkin dilakukan karena beberapa hal : industri televisi selain labor intensive adalah juga capital intensive atau rakus modal. Terutama setelah kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Stasiun tv lokal sendiri sangat membutuhkan partner usaha. Sehingga para praktisinya selalu mencoba cara- cara baru untuk menekan biaya operasional. Adapun kerjasama yang nantinya mungkin terjalin adalah dengan tujuan yang sama; yaitu menekan biaya operasional.

Dengan demikian kira- kira gambaran betapa pentingnya nilai rating bagi industri televisi. Satu – satunya cara untuk menaikkan sales adalah dengan menaikkan rating. Karena jenis persaingan industri ini adalah bersifat zero sum game, satu- satunya cara untuk memperoleh rating adalah dengan merebut penonton dari stasiun televisi yang sudah ada. Yang untuk satu ini kita masih bisa beroptimis. Karena data rating terkini menunjukkan bahwa penonton terbesar sebenarnya hanya berkumpul di tiga stasiun televisi swasta , yaitu : RCTI, SCTV dan Trans TV. Sedangkan stasiun televisi yang lainnya : Indosiar, Lativi, TV 7, ANTEVE, Global TV, TPI dan Metro TV praktis memiliki sedikit penonton dan tidak signifikan. Dan seringkali jumlah penontonnya pun tidak stabil. Dengan begitu sebenarnya TVRI masih memiliki kans yang cukup besar untuk merebut penonton dari stasiun televisi yang jumlah penontonnya “nanggung” tersebut. Tanpa harus merebut penonton dari stasiun yang sudah well established.

2. MANAJEMEN ASSET

Manajemen asset dilakukan dengan memeriksa kelengkapan sumber daya yang dimiliki agar bisa mengembangkan sebuah stasiun televisi menjadi sebuah stasiun yang business like ( mengelolanya sebagaimana sepatutnya lembaga usaha dikelola ). Dari situ kemudian, barulah manajemen bisa menentukan apa- apa yang bisa dilakukan dalam jangka waktu short run maupun long run. Artinya menyikapi sumber daya sebagai sebuah entity yang terbatas jumlahnya.
Dengan demikian diperlukan pengelolaan sistem akutansi yang baik dan terpercaya untuk bisa mengukur kemajuan sebuah lembaga usaha. Baik dari dalam maupun dari luar ( outsourcing ).

3. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Manajemen TVRI harus meningkatkan kemampuannya untuk membeli Sumber Daya Manusia yang terbaik. Hal ini bisa dicapai bila kita mulai mensikapi sumber daya manusia juga memiliki market ( pasar ). Dengan demikian perlu adanya pricing yang tepat untuk membeli sumber daya manusia. Artinya pemberian kompensasi yang juga harus disesuaikan dengan rata- rata kompensasi yang berlaku di industri tersebut.


Namun tambahan lagi, kemampuan sebuah lembaga usaha untuk membeli sumber daya manusia yang bagus tidak semata- mata datang dari tawaran gaji yang besar. Melainkan harus ada Equal Opportunity Employment dan Evaluasi berkala. Evaluasi mutu sumber daya manusia harus dilakukan secara berkala dan divisi per divisi hingga unit per unit. Hasil evaluasi juga menggambarkan kinerja masing- masing staff. Dan manajemen akan mengambil langkah lay-off ( pemutusan hubungan kerja ) bila terjadi penurunan kinerja. Untuk dapat melakukan hal itu, televisi dapat membuat perjanjian kontrak dengan karyawan. Dan membuat semacam kuota batas jumlah karyawan tetap.


Evaluasi kebutuhan SDM juga untuk menjawab kebutuhan cyclical suatu bisnis. Bila sales sedang menurun tajam, manajemen dapat melakukan pengurangan karyawan dengan cepat ( bisa dibilang departemen SDM merespon cepat kebutuhan departemen marketing ). Kemudian bila produksi sedang ada peningkatan , departemen SDM cepat – cepat melakukan perekrutan baru. Manajemen sumber daya manusia juga merekam proporsi ideal kebutuhan sumber daya manusia berbanding lurus dengan proporsi produksinya. Kebutuhan produksi sebuah stasiun televisi dapat menurun drastis, sebut saja misalnya sebagian besar programnnya berasal dari pembelian bukan produksi, dan lain- lain.

4. SALES & MARKETING

Bahkan di saat yang paling sepi iklanpun televisi masih mampu mengajak pemasang iklan untuk menjadi sponsor sebuah program. Caranya adalah dengan melampirkan data segmentasi pemirsa dari pihak ketiga. Dengan begitu, produksi televisi tidak tertinggal.


Selain iklan spot, beberapa waktu terakhir bermunculan iklan running text, credit title, iklan di title name, iklan sponsor di bumper program, iklan di background content sebuah program, dll.
Penjualan juga datang dari dokumentasi program. Terutama dokumentasi sejarah yang pernah diliput oleh TVRI masih memiliki nilai nominal untuk dijual ke televisi lokal atau production house, dll.

5. NEWS

Departemen news harus mampu menjawab pemikiran, perasaan , pendapat, kesimpulan, firasat atau apapun yang sedang dirasakan masyarakat masa kini. Seleksi exposure harus dipilih dengan bijaksana mengenai proporsi berita yang akan ditayangkan. Sebagaimana layaknya sebuah departemen news yang bersaing, berita- berita yang hendak ditayangkan harus memiliki news value. Bukan pesan pemerintah atau berisi pesan melestarikan budaya daerah. Sepintas news value memang hampir sama dengan commercial value.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.