Lar Monga

Sony Alfa || Lar Monga || 09 February 2022

Rezanades MIB, MM

Keris Lar Monga adalah dapur keris dengan ukiran hewan mitologi yang merupakan gabungan dari 3 hewan, yaitu gajah, garuda dan naga. Manglar Monga atau Lar Monga, diduga lahir pada zaman sebelum Majapahit. Ketiga makhluk wujud hewan itu ada dalam mitologi Hindu.
Gajah, adalah Dewa Ganesha – putra Siwa, yang melambangkan penguasa ilmu pengetahuan (dipakai oleh Universitas ITB Bandung sebagai simbol), sekaligus dewa perang yang tidak terkalahkan. Naga, melambangkan dewa Siwa, sang penghancur, penguasa jagad. Dan Garuda (Garudeya, tunggangan Dewa Wisnu) sehingga dalam kebudayaan Nusantara, untuk melambangkan Wisnu selalu dengan wujud Garuda. Jadi Lar Monga adalah hewan mitologi yang berkepala gajah, memiliki sayap dengan tubuh seekor ular naga. Pada gandik keris tersebut kepala gajah diukir berada di bagian depan gandik dengan sayap di sampingnya. Dengan ekor naga sebagai badannya yang menjulang keatas hingga keujung bilah keris.

Keris Lar Monga luk 3, ditengarai merupakan pusaka raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memerintah pada abad XVII. Hewan gabungan gajah, garuda dan naga merupakan representasi dari ambisinya yang ingin melakukan ekspansi menguasai seluruh pulau Jawa. Seolah hendak meminjam kekuatan Ganesha, Siwa dan Wisnu untuk menaklukan semua lawan – lawannya. Sedangkan luk 3 bermakna agar cita – cita atau ambisinya tersebut direstui Tuhan hingga berhasil terwujud. Tercatat, Sultan Agung berhasil melakukan pelbagai penaklukan penting untuk memperluas kerajaannya.

Jawa Tengah: Seluruh wilayah Jawa Tengah berhasil disatukan ke dalam kekuasaan Mataram. Jawa Timur: Sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Madura, ditaklukkan. Penaklukan yang paling signifikan adalah wilayah pesisir utara seperti Surabaya. Wilayah paling timur, seperti Blambangan (Banyuwangi saat ini), juga diserang, berhasil ditaklukan. Jawa Barat: Sebagian besar wilayah Jawa Barat berhasil dikuasai, kecuali Kesultanan Banten yang tetap merdeka. Luar Jawa: Meskipun fokus utama ekspansi berada di Jawa, pengaruh dan kekuasaan Mataram juga meluas ke beberapa wilayah di luar pulau, seperti Sukadana di Kalimantan Barat, serta Palembang dan Jambi di Pulau Sumatra, yang menjadi wilayah vasal kerajaan Mataram. Yang berarti mereka bukan merupakan bagian dari kerajaan Mataram, tetapi mengakui dan tunduk kepada kekuasaan Mataram. Alhasil seluruh pulau Jawa berhasil dikuasai kecuali Batavia (VOC Belanda) dan Banten.

Meskipun ambisinya belum rampung 100%, tetapi tuah atau pengaruh magis keris tersebut yang memberikan sugesti kepada diri Sultan Agung telah membuatnya menorehkan prestasi yang besar. Tak dapat dipungkiri bila dalam sepanjang sejarah Mataram Islam, hanya prestasi Sultan Agung lah yang paling menonjol. Karakternya terkenal kuat, tegas dan berwibawa. Ditambah lagi, Sultan Agung terkenal logis dalam mengambil keputusan – keputusan mengelola kerajaannya. Bukan seseorang yang mudah percaya tahayul. Rasionalitas Sultan Agung dapat dilihat dari tindakan – tindakannya ; Yang pertama, ia berpikir jauh ke depan bahwa supaya kerajaannya bisa langgeng dan makmur bertahun – tahun kemudian ia harus bisa menyatukan pulau Jawa. Tentu ini adalah hal yang logis walaupun konsekuensinya pahit mesti menempuh peperangan. Kedua, ia sudah bisa melihat bahwa VOC adalah ancaman asing yang harus dienyahkan dari pulau Jawa. Tidak seperti raja – raja atau bangsawan sesudahnya yang ambigu antara ya dan tidak terhadap Belanda. Bahkan ada yang termakan rayuannya dengan iming – iming materi hingga terlena. Ketiga, Ia menerapkan sistem pemerintahan yang sentralistik, di mana kekuasaan tertinggi berada di tangannya, namun dalam pelaksanaannya didesentralisasikan kepada pejabat bawahan. Keempat, menjadikan Mataram kerajaan agraris yang kuat, dengan fokus pada sektor pertanian. Hal ini penting dilakukan mempertimbangkan kondisi alam dan geografis pulau Jawa yang memiliki potensi tinggi dalam pertanian.

Nah, berikut keris yang saya miliki ini bukanlah keris Lar Monga Sultan Agung, melainkan buatan Empu Kamardikan. yang berusaha memutrani bentuk dari keris Lar Monga. Yang menyerupai atau mirip dengan keris Lar Monga jaman dahulu. Dibuat dengan peralatan modern sehingga memungkinkan untuk membuat ukirannya ngerawit betul. Hanya saja keris saya ber luk 5 dengan besi keleng atau tanpa pamor.

Tinggalkan Balasan