Infotainment : Pengingkaran Fungsi Informasi ? II ( Kedua )

Menanggapi tulisan Ignatius Haryanto pada harian Kompas pada Minggu, 26 Juni 2005 lalu yang bertajuk “Infotainment : Pengingkaran Fungsi Informasi ?”. Saudara Ignatius memulai karangannya dengan kalimat ,”sejak kapan kita harus menerima diktum baru : Infotainment, yang merupakan kepanjangan dari informasi dan entertainment ? Kita memang harus mulai merumuskan apa yang dimaksud dengan infotainmen ? Kita melihatnya setiap hari pagi, sore dan malam dan mengapa ia tampak begitu vulgar ? Dan yang terpenting apa dampaknya bagi masyarakat kita ?

Diakhir artikel ini kita akan sampai pada pembahasan yang bisa menjawab pertanyaan diatas. Tapi sebelumnya saya ingin mengkritisi beberapa argumen yang ditulis tanpa dasar ilmiah apapun yang pernah ditulis oleh Ignatius Haryanto. Ia menulis bahwa : “infotainment sebenarnya mengingkari fungsi informasi, terutama hak masyarakat itu sendiri untuk menerima informasi yang mereka butuhkan”. Kemudian dengan teorinya itu ia langsung menyimpulkan bahwa infotainment mengacaukan dua fungsi yaitu antara fungsi informasi dan fungsi hiburan. Padahal ia tidak lain hanya terjebak pada istilah infotainment itu sendiri, yaitu information dan entertainment yang digabung menjadi infotainment. Infotainment hanya istilah komersial televisi belaka agar bisa menamakan produknya untuk bisa dijual ke pemasang iklan dan pemirsa, tidak ada termaktub didalamnya soal fungsi informasi.

Yang kedua soal infotainment mengingkari fungsi informasi sehingga lahir teori bahwa infotainment mengingkari hak masyarakat untuk menerima informasi yang mereka butuhkan. Ignatius nampaknya tidak mengerti benar makna dari teori komunikasi massa atau kalaupun tahu nampak ia hanya dengar sepintas lalu. Padahal masyarakat tidak pernah menerima informasi yang mereka ( butuhkan ), namun mereka menseleksi informasi yang mereka inginkan, menseleksi informasi yang mereka sukai dan yang paling terakhir menseleksi informasi yang mereka yakini di media massa. Argumen ini berasal dari teori komunikasi , “Selective Influence theory”, teori ini dengan jelas menggambarkan proses informasi. Jadi bila anda seorang pengacara yang sedang membaca artikel masalah hukum dan kriminal di majalah berarti anda menseleksi informasi yang anda inginkan, bila anda sedang mencari lagu kesukaan anda di radio berarti anda sedang menseleksi informasi yang anda sukai. Dan bila anda seorang muslim anda akan mencari tayangan rohani agama Islam dan bukan tayangan rohani agama lain. Karena anda menseleksi informasi yang anda yakini saja.

Jadi terlalu dangkal bila kita menyimpulkan bahwa masyarakat menerima informasi yang mereka butuhkan, tetapi mereka menseleksi-nya! Munculnya banyak infotainment di televisi bukanlah tanpa sebab lain karena ia laku di mata pemasang iklan dan pemirsa. Infotainment sangat ideal untuk bisnis televisi ; karena biaya pembuatannya yang relatif murah dan cepat nyantol dengan iklan. Tengoklah volume produk iklan di televisi, berapa banyak dari total iklan yang ternyata berisi produk- produk rumah tangga yang cocok dengan pemirsa ibu rumah tangga. Karena karakter iklan di televisi adalah barang- barang low risk , seperti : sabun, shampo, pasta gigi, permen, sabun cuci, cat tembok, popok bayi, dll. Lalu mengapa bila tayangan infotainment laku di mata pemasang iklan dan pemirsa televisi saudara Ignatius menyimpulkan ia sebagai pengingkaran fungsi informasi ? Tidakkah lebih logis bila ia dikatakan sebagai produk atau media yang lolos dari seleksi informasi yang dilakukan oleh publik itu sendiri ? Tidakkah lebih sederhana lagi bila saya katakan infotainment hanyalah agen perantara yang mempertemukan penontonnya yang notabene ibu rumah tangga dengan media televisi yang pemasang iklannya kebanyakan jenis low risk, suatu istilah akademik dalam studi komunikasi marketing.

Poin ketiga Ignatius mengatakan,” fungsi dasar komunikasi sebagaimana ditampilkan dalam berbagai buku teks komunikasi, maka media massa punya fungsi informasi, fungsi survival terhadap lingkungan , fungsi hiburan, fungsi pendidikan dan juga fungsi kontrol sosial”. Kemudian karena terjebak pada istilah infotainment yaitu information dan entertainment lantas ia menyimpulkan bahwa fungsi infotainment adalah terletak pada fungsi informasi dan hiburan. Padahal ini adalah kesimpulan yang menyesatkan, mungkin saudara Ignatius tidak pernah membaca teks book ilmu komunikasi dalam bentuk literatur aslinya dalam bahasa Inggris yang menerangkan teori ini.
Kemudian ia menambahkan,”bahwa infotainment membaurkan batas antara informasi dan hiburan itu menjadi satu, yaitu membuat baur batas – batas mana yang dianggap sebagai informasi dan mana yang dianggap sebagai hiburan ( membuat orang tertawa , tersenyum, lalu memikirkan arti hidup lebih dalam ). Yang dimaksud fungsi menghibur disini bukan berarti media yang harus selalu membuat orang tertawa dan tersenyum. Logiskah bila saya katakan ; bila anda menonton suatu film action di bioskop yang didalamnya terdapat adegan perkelahian di film tersebut kemudian anda merasa terhibur. Anda merasa terhibur karena film atau media tersebut memainkan emosi anda dan memberikan sensasi yang anda sukai. Sehingga sensasi tersebut memberikan rasa bebas dari kepenatan pekerjaan dan segala persoalan hidup anda selama beberapa jam saja. Itulah yang dimaksud dalam teori ini. Jika fungsi menghibur pada media harus sesuai dengan teori saudara Ignatius yaitu tertawa dan tersenyum, maka niscaya semua media isinya komedi dan pelawak semua jika ingin menghibur.

Poin keempat adalah bahwa infotainment sesungguhnya memiliki fungsi kontrol sosial. Berbagai berita perselingkuhan, keretakan rumah tangga dan kawin-cerai artis ditayangkan diberbagai media televisi. Semuanya tampil vulgar dan tampak menjijikan semuanya terlihat hedonis! Tapi apakah dampaknya terhadap masyarakat ? Dampaknya adalah menjaga norma- norma masyarakat. Untuk memahami teori ini, bagaimanakah menurut anda dampak liputan pers terhadap terungkapnya kasus korupsi seorang pejabat KPU ? Apakah berita media itu akan merangsang ( stimulan ) orang untuk terus korupsi ? tentu tidak! Dipastikan dampaknya ada rasa malu pada keluarga pejabat yang terkena kasus korupsi itu. Atau membuat para koruptor lain lebih berhati- hati untuk korupsi.

Efek yang sama juga terjadi pada media infotainment, karena ini adalah respon yang wajar pada manusia normal. Bagaimana dampak berita terungkapnya perselingkuhan seorang artis ? Tentu timbul rasa malu dari keluarga artis yang bersangkutan dan paling tidak membuat artis lain yang sedang berselingkuh lebih berhati- hati karena banyak kamera infotainmen berkeliaran. Ratusan, tidak…ribuan headline infotainment yang vulgar dan menjijikkan itu paling tidak sudah membuat para ibu rumah tangga mengucap astagfirullah dan na’udzu billahi min dzalik ( jauhkan kami dari perbuatan tercela itu ya Allah ) di rumahnya masing- masing. Dan secara di bawah sadar mengajarkan kepada masyarakat kita tentang apa yang disebut “memelihara malu”. Ia mengajarkan kita untuk membangun rumah tangga di atas rasa malu, bergaul diatas rasa malu dan bertindak dengan rasa malu.

Namun saudara Ignatius nampaknya tidak mengerti makna dibalik judul headline yang vulgar dan menjijikkan itu. Ia terperangkap dalam aspek komersialisme pada berbagai judul media infotainment. Tentu ada aspek komersialisme yang menyertai pembuatan sebuah judul berita. Agar pembaca mau menoleh ke suatu artikel atau berita televisi , judul dibuat seram, vulgar dan mencolok, itupun sudah biasa. Seperti judul yang ditulis oleh saudara Ignatius sendiri ,”Infotainment : Pengingkaran Fungsi Informasi ?”. Tentunya memiliki aspek komersialisme juga, yang oleh karena itu penulis menamakan artikel ini dengan judul “Infotainment : Pengingkaran Fungsi Informasi ? II ( Kedua )”.

Pernah dimuat

di Harian Kompas, Minggu, 3 Juli 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.