Rezanades MIB, MM
Secret Window pada awalnya tampak seperti film thriller sederhana tentang seorang penulis yang diteror oleh seseorang yang menuduhnya melakukan plagiarisme. Namun semakin jauh ceritanya berjalan, semakin terasa bahwa persoalan sebenarnya bukan tentang pencurian sebuah cerita. Film ini justru berbicara mengenai identitas, kemarahan, penyangkalan, dan cara pikiran manusia membangun realitasnya sendiri ketika kenyataan menjadi terlalu berat untuk diterima.
Mort Rainey, yang diperankan Johnny Depp, adalah seorang penulis yang sedang berada dalam kondisi hidup yang berantakan. Pernikahannya hancur setelah ia memergoki istrinya, Amy, berselingkuh dengan Ted Milner. Mort kemudian tinggal sendirian di sebuah rumah terpencil. Ia kehilangan motivasi, banyak tidur, mengalami “writer’s block” sehingga kehilangan inspirasi untuk bisa menulis dan seperti menarik diri dari kehidupan.
Dalam keadaan seperti itulah John Shooter muncul. Shooter datang ke rumah Mort dan menuduhnya telah mencuri sebuah cerita. Ia mengatakan bahwa cerita yang diterbitkan Mort sebenarnya adalah miliknya. Mort tentu membantah. Ia yakin dapat membuktikan bahwa cerita tersebut sudah ia tulis dan terbitkan lebih dahulu.
Sejak saat itu, Shooter mulai terasa seperti ancaman nyata. Ia bisa muncul tiba-tiba, berbicara dengan Mort, mengancamnya, dan seolah mengetahui segala sesuatu tentang kehidupannya. Mort pun semakin yakin bahwa seorang pria asing sedang menguntit dan menerornya.
Masalahnya, John Shooter sebenarnya tidak pernah benar-benar ada. Shooter adalah bagian dari Mort sendiri.
Yang membuat film ini menarik adalah bahwa Mort tidak sedang berpura-pura. Bagi Mort, Shooter sungguh terasa sebagai manusia lain. Ia melihat wajahnya, mendengar suaranya, berbicara dengannya, bahkan merasa takut kepadanya. Dari sudut pandang Mort, Shooter mempunyai kehendak sendiri.
Karena isi film sebagian besar mengikuti perspektif Mort, penonton pun ikut tertipu. Kita melihat Shooter sebagaimana Mort melihatnya. Baru kemudian kita menyadari bahwa realitas yang selama ini kita ikuti ternyata bukan realitas objektif. Beberapa tindakan yang dianggap Mort dilakukan oleh Shooter ternyata dilakukan oleh Mort sendiri.
Ken Karsch, penyelidik swasta yang disewa Mort untuk membantunya, dan Tom Greenleaf, warga setempat yang dianggap dapat menjadi saksi, ternyata dibunuh oleh Mort. Namun Mort tidak menyadari bahwa dirinya sendiri yang melakukan pembunuhan tersebut. Ketika kemudian ia menemukan akibat dari perbuatannya, ia sungguh percaya bahwa Shooter adalah pelakunya.
Di sinilah John Shooter menjadi lebih daripada sekadar halusinasi biasa. Ia merupakan personifikasi dari kemarahan, dendam, dan dorongan kekerasan Mort yang tidak terintegrasi dalam kesadaran. Dari lapisan bawah sadar inilah Shooter seperti memperoleh kehidupannya sendiri.
Mort melihat dirinya sebagai korban. Ia dikhianati istrinya, kehilangan rumah tangga, kehilangan arah hidup, dan produktivitasnya sebagai penulis. Tetapi di balik rasa sakit tersebut terdapat kemarahan yang sangat besar. Mort bukan hanya sedih kepada Amy dan Ted. Ia menyimpan kebencian. Dalam pengalaman sadar Mort, Shooter benar-benar terasa sebagai orang lain.
Karena itulah Mort dapat melakukan tindakan-tindakan mengerikan ketika sisi Shooter dalam dirinya muncul, kemudian kembali ke kesadaran sehari-harinya tanpa memahami bahwa dialah yang telah melakukannya. Pikiran Mort seolah memisahkan pengalaman, kemarahan, dan tindakannya sendiri ke dalam identitas yang ia rasakan sebagai seseorang di luar dirinya.
Nama John Shooter sendiri kemudian menjadi semakin menarik. Menjelang akhir film, nama “Shooter” memperoleh permainan makna yang mengarah kepada ungkapan “shoot her” — tembak dia.
Siapa “her” yang dimaksud?
Amy.
Istri Mort yang berselingkuh dengan Ted dan menjadi pusat luka, kemarahan, serta rasa dikhianati yang dialami Mort. Dengan demikian, nama John Shooter seolah sejak awal sudah menyimpan tujuan paling gelap dari identitas tersebut: menyingkirkan Amy, perempuan yang dalam pikiran Mort telah menghancurkan kehidupan rumah tangganya. Permainan kata “Shooter” dan “shoot her” menjadi petunjuk bahwa sosok tersebut tidak pernah benar-benar datang dari luar. Ia lahir dari konflik terdalam Mort sendiri.
Tema plagiarisme juga mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar konflik mengenai hak cipta. Shooter datang dengan tuduhan bahwa Mort telah mencuri cerita miliknya. Namun karena Shooter sebenarnya berasal dari pikiran Mort, secara ironis Mort sedang dituduh oleh bagian dari dirinya sendiri.
“Cerita itu bukan milikmu.”
Dalam argumentasi antara Mort dan Shooter mengenai tuduhan plagiarisme tersebut, Mort dengan tegas membantah tuduhan Shooter. Mort mengatakan bahwa justru dirinya telah menulis dan menerbitkan cerita itu dua tahun lebih dahulu daripada waktu yang diklaim Shooter. Bagi Mort, urutan waktu penerbitan tersebut seharusnya menjadi bukti yang sangat sederhana: jika ceritanya sudah terbit dua tahun sebelumnya, maka tidak mungkin ia mencuri cerita dari Shooter.
Karena itu Mort sangat terobsesi menemukan edisi majalah lama yang membuktikan bahwa cerita tersebut sudah diterbitkan lebih dahulu atas namanya. Kemudian majalah itu benar-benar dikirim oleh agennya. Namun ketika Mort membukanya, halaman yang memuat ceritanya sudah dipotong. Mort langsung menyimpulkan bahwa Shooter telah melakukannya.
Tetapi kemudian muncul satu pertanyaan sederhana.
Bagaimana Shooter bisa masuk ke dalam paket tersebut?
Paket itu dikirim langsung kepada Mort. Mort sendiri yang mengambilnya. Tidak ada alasan logis bagi Shooter untuk dapat memotong halaman tersebut tanpa diketahui.
Kemungkinan yang tersisa sangat sederhana sekaligus mengerikan: Mort sendiri yang memotong halaman tersebut. Hanya saja ia tidak mengingatnya. Adegan ini menjadi salah satu titik penting dalam film karena untuk pertama kalinya keberadaan Shooter sebagai manusia lain tidak lagi dapat dipertahankan secara logis.
Menjelang akhir cerita, muncul versi lain dari diri Mort sendiri yang berusaha memberikan penjelasan. Versi ini mencoba menyadarkannya. Bahwa Shooter sesungguhnya tidak ada dan bahwa Mort harus melihat kenyataan.
Sosok tersebut tidak mesti dipahami sebagai kepribadian ketiga. Lebih tepat apabila ia dilihat sebagai sisi rasional pikiran Mort. Di dalam dirinya terjadi pertarungan terakhir.
Di satu sisi terdapat Mort yang mulai memahami bahwa semua ini dilakukan olehnya sendiri. Bagian ini masih mengenal tanggung jawab dan realitas.
Di sisi lain terdapat Shooter, yang mewakili kemarahan, dendam, kekerasan, dan keinginan menyelesaikan semuanya dengan cara paling ekstrem. Inilah sebenarnya klimaks psikologis film. Bukan pada saat Amy dibunuh. Bukan pada saat Ted dibunuh. Klimaks sesungguhnya terjadi ketika Mort mengetahui bahwa Shooter adalah dirinya sendiri.
Pada saat itu ia sebenarnya masih mempunyai pilihan. Ia dapat menerima kenyataan, menghentikan semuanya, dan menyerahkan dirinya ke polisi. Tetapi Mort tidak melakukan itu. Ia justru menerima Shooter.
Pada awal film Mort sungguh percaya bahwa Shooter adalah orang lain. Pada akhirnya batas antara keduanya runtuh. Mort memahami bahwa Shooter berasal dari dirinya sendiri. Namun bukannya menolak bagian tersebut, Mort justru membiarkannya menjadi bagian dominan dari dirinya.
Inilah sebabnya Mort terlihat berubah drastis di akhir film. Ia justru tampak lebih tenang, lebih rapi, kembali menulis dan tampak lebih percaya diri. Secara lahiriah ia bahkan kelihatan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Namun justru di situlah tragedinya. Konflik internal Mort telah selesai. Tapi yang menang adalah bagian dirinya yang paling gelap.
Amy dan Ted menjadi sasaran terakhir karena keduanya merupakan pusat luka psikologis Mort. Bagi Mort, Amy adalah orang yang mengkhianatinya, sedangkan Ted adalah simbol bahwa dirinya telah digantikan. Shooter sendiri, sebagai representasi dari kemarahan, dendam, dan keinginan terdalam Mort, telah mengambil alih kendali dan mewujudkan dorongan tersebut melalui tubuh Mort.
Pada tahap ini, pemisahan antara Mort dan Shooter praktis telah hilang. Shooter tidak lagi perlu muncul sebagai sosok yang berdiri di hadapan Mort, karena ia sekarang hadir melalui Mort sendiri. Pada akhirnya Mort membunuh Amy dan Ted. Tentu saja secara moral tindakan itu mengerikan. Tetapi di dalam pikiran Mort yang sudah terdistorsi, pembunuhan tersebut berubah menjadi semacam penyelesaian cerita.
Dan di sinilah profesi Mort sebagai penulis menjadi sangat penting. Ia terbiasa menciptakan karakter, konflik dan menentukan ending. Dalam kehidupan nyata, Mort mendapatkan ending cerita yang tidak dapat diterimanya. Pernikahannya berakhir. Amy memilih pria lain. Mort tinggal sendirian. Kariernya mandeg.
Shooter kemudian menawarkan ending yang berbeda. Amy tidak ada lagi. Ted tidak ada lagi. Masalah selesai. Mort kembali menulis. Hidup kembali terasa berada di bawah kendalinya.
Dengan begitu Shooter bukan hanya alter ego yang membawa kekerasan. Ia seperti menjadi penulis kedua di dalam diri Mort. Penulis yang bersedia mengubah kenyataan agar sesuai dengan ending yang diinginkannya.
Judul Secret Window juga terasa mempunyai makna simbolis. Jendela adalah sesuatu yang kita gunakan untuk melihat dunia. “Secret window” dapat dibaca sebagai jendela tersembunyi di dalam diri Mort sendiri. Sebuah cara melihat dirinya yang selama ini tidak ia sadari. Atau mungkin yang tidak ingin ia lihat.
Film tersebut juga menggunakan cermin dan refleksi untuk menyampaikan pesan. Semua itu memperkuat gagasan mengenai identitas yang terpecah. Mort adalah penulis yang terbiasa menciptakan tokoh, tetapi kali ini tokoh yang diciptakannya terasa begitu nyata hingga akhirnya seperti memiliki kehidupan sendiri.
Penampilan Shooter tampak sangat berbeda dari Mort. Shooter berdiri tegap, kelihatan lebih bertenaga, setiap ucapannya tampak percaya diri, seolah ia selalu tahu apa yang mesti dilakukan. Sedangkan Mort tampak lesu, suka tidur, tidak produktif dan kelihatan kurang bertenaga.
Shooter bahkan datang seolah-olah berasal dari dunia yang berbeda. Namun yang dibawanya justru sesuatu yang paling dekat dengan Mort. Sebuah cerita. Artinya, Shooter tampak asing, tetapi sebenarnya berasal dari tempat yang paling intim dalam diri Mort.
Jika dilihat dari sudut psikologi, film ini memang menggunakan beberapa unsur yang menyerupai fenomena disosiatif. Dalam kehidupan nyata, seseorang memang dapat mengalami celah ingatan, merasa terputus dari tindakan sendiri, atau mengalami kondisi identitas yang terasa berbeda.
Namun Secret Window bukan gambaran klinis yang presisi mengenai Dissociative Identity Disorder atau DID. Film ini mengambil sejumlah unsur psikologis nyata lalu mendramatisasikannya secara hiperbolis menjadi sebuah thriller.”
Pada DID nyata, gejala biasanya jauh lebih kompleks dan tidak selalu berbentuk satu alter ego lengkap seperti John Shooter yang mempunyai nama, pakaian, aksen, karakter, dan agenda pembunuhan. DID juga tidak identik dengan kekerasan.
Sedangkan Film thriller ini menggunakan gambaran alter ego pembunuh untuk menimbulkan efek dramatis, tetapi hal itu tidak boleh dianggap sebagai gambaran umum orang yang mengalami gangguan disosiatif. Dalam konteks klinis, DID biasanya dikaitkan dengan trauma berat dan berulang pada masa kanak-kanak, ketika struktur identitas seseorang masih berkembang. Pola disosiatif dapat terbentuk sebagai mekanisme untuk menghadapi pengalaman yang terlalu berat.
Ketika dewasa, pola tersebut bisa tetap tersembunyi atau tidak dikenali dalam waktu lama. Kemudian stres berat atau pengalaman tertentu dapat memicu munculnya gejala DID yang sebelumnya tersembunyi atau belum terlihat jelas.
Karena itu, jika karakter Mort ingin diterjemahkan ke dalam kerangka klinis nyata, semestinya ada kerentanan atau pola disosiatif yang sudah terbentuk jauh sebelumnya. Perselingkuhan Amy dan kehancuran pernikahannya kemudian hanya menjadi pemicu yang membuat sesuatu yang lama tersembunyi muncul ke permukaan.
Masalahnya, film ini tidak pernah memberi kita riwayat masa kecil Mort. Karena itu kita tidak benar-benar bisa mengatakan bahwa Mort mempunyai DID secara klinis. Lebih tepat mengatakan bahwa Secret Window memakai gagasan disosiasi dan identitas terfragmentasi sebagai alat untuk membangun cerita.
Pada akhir film, ada satu detail lain yang menarik. Penduduk kota terlihat menghindari Mort. Mereka tampak tidak nyaman ketika melihatnya. Beberapa bahkan seperti takut kepadanya.
Karena, walaupun pembunuhan-pembunuhan Mort tidak pernah berhasil dibuktikan secara hukum. Rumor tentang orang-orang terdekat Mort yang menghilang sudah tersebar ke penduduk kota. Oleh karena itu, secara sosial ia dianggap berbahaya.
Yang membuatnya semakin menyeramkan adalah Mort tampaknya sama sekali tidak terganggu oleh hal tersebut. Mort yang lama mungkin akan merasa malu, cemas, atau takut terhadap kecurigaan orang. Mort yang sudah menyatu dengan Shooter tidak peduli. Ia berjalan melalui kota dengan tenang. Ia berbelanja. Ia kembali menulis.
Ia menjalani kehidupannya seperti semuanya baik-baik saja. Masyarakat melihat sesuatu yang mengerikan dalam dirinya. Namun Mort sendiri justru merasa jauh lebih damai.
Di dalam film, Amy dan Ted disiratkan dikubur di kebun rumahnya. Mort kemudian menanam jagung di atas tempat itu dan memakan hasilnya. Secara simbolis, gambarannya sangat gelap. Kematian berubah menjadi tanah. Tanah menumbuhkan tanaman. Tanaman menjadi makanan. Kemudian makanan kembali masuk ke tubuh Mort. Seakan-akan seluruh tragedi tersebut akhirnya ia serap kembali ke dalam dirinya.
Tidak ada lagi pemisahan. Tidak ada lagi Shooter yang berdiri di luar dirinya. Mort dan Shooter sudah menjadi satu. Dan bersamaan dengan itu, kreativitas Mort kembali. Writer’s block-nya menghilang. Ia bisa menulis lagi.
Seorang penulis yang selama hidupnya terbiasa menciptakan cerita akhirnya melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Ia tidak lagi menulis cerita di atas kertas. Ia mulai menulis ulang kenyataan hidupnya sendiri. Dan ia memberikan dirinya ending yang ia inginkan.
