Kritik terhadap Filsafat Theodore Kaczynski: Teknologi, Otonomi, Adaptasi, dan Persaingan Antarperadaban

Rezanades MIB, MM

Theodore Kaczynski meninggalkan sebuah kritik terhadap masyarakat industri dan teknologi yang menarik untuk dibahas secara filosofis. Pemikirannya dituangkan dalam Industrial Society and Its Future, sebuah tulisan sekitar 35.000 kata yang diterbitkan oleh The Washington Post pada 19 September 1995. Dengan demikian, Kaczynski menulis kritiknya pada zaman ketika internet masih berada pada tahap awal penggunaan massal, jauh sebelum smartphone, media sosial modern, kecerdasan buatan generatif, dan ketergantungan digital seperti yang kita alami sekarang.

Justru karena ditulis pada 1995, sebagian kekhawatirannya terasa menarik apabila dibaca kembali hari ini. Kaczynski melihat bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berarti bertambahnya kebebasan manusia. Teknologi memang meningkatkan kemampuan manusia, memberikan kenyamanan, memperpanjang usia, meningkatkan produktivitas, dan mempermudah kehidupan. Tetapi teknologi juga menciptakan sistem yang semakin kompleks, dan semakin kompleks sistem tersebut, semakin besar ketergantungan individu kepadanya.

Salah satu konsep utama Kaczynski adalah apa yang ia sebut sebagai power process. Menurutnya, manusia secara psikologis membutuhkan suatu proses yang terdiri dari tujuan, usaha untuk mencapai tujuan, keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan tersebut, serta suatu tingkat otonomi dalam prosesnya. Dengan kata lain, manusia tidak hanya membutuhkan hasil. Manusia membutuhkan pengalaman bahwa tindakan dan usahanya sendiri mempunyai pengaruh nyata terhadap kehidupannya.

Secara sederhana, manusia dalam masyarakat tradisional mungkin mengalami proses seperti ini: lapar → mencari atau menghasilkan makanan → melakukan usaha → berhasil → makan. Hubungan antara tindakan dan hasil relatif langsung. Manusia modern menghadapi keadaan yang berbeda: bekerja dalam suatu organisasi → menerima uang → memperoleh makanan melalui jaringan produksi dan distribusi → bergantung pada perusahaan, bank, listrik, pemerintah, transportasi, sistem pembayaran, dan berbagai institusi lainnya.

Karena itu, walaupun manusia modern secara fisik dapat hidup jauh lebih aman dan nyaman, Kaczynski berpendapat bahwa kendali langsung individu terhadap kondisi fundamental kehidupannya justru berkurang. Dalam pandangannya, kemajuan kolektif manusia tidak selalu identik dengan bertambahnya kekuasaan individu atas kehidupannya sendiri.

Definisi kebebasan Kaczynski juga perlu diperhatikan. Kebebasan baginya bukan sekadar keadaan ketika seseorang diperbolehkan memilih pakaian, hiburan, makanan, kendaraan, atau berbagai produk konsumsi. Ia mendefinisikan kebebasan sebagai kemampuan individu atau kelompok kecil untuk memiliki kendali nyata terhadap persoalan fundamental kehidupannya, seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan pertahanan terhadap ancaman, tanpa terlalu bergantung kepada organisasi besar yang keputusan-keputusannya berada di luar kendalinya.

Dengan definisi tersebut, seseorang dapat mempunyai smartphone, mobil, Netflix, ribuan pilihan barang, dan kebebasan memilih berbagai gaya hidup, tetapi menurut Kaczynski ia belum tentu benar-benar bebas apabila seluruh fondasi kehidupannya bergantung kepada sistem besar yang tidak dapat ia kendalikan.

Kaczynski juga melihat suatu pola yang menurutnya berulang dalam perkembangan teknologi. Sebuah teknologi diciptakan untuk memecahkan suatu masalah, tetapi teknologi tersebut kemudian menciptakan efek samping baru. Untuk mengatasi efek samping tersebut, manusia menciptakan teknologi atau regulasi berikutnya, yang kemudian menghasilkan persoalan baru lagi. Polanya dapat digambarkan sebagai Teknologi A → efek samping → Teknologi atau Regulasi B → efek samping baru → Teknologi C → sistem semakin kompleks.

Internet merupakan contoh modern yang mudah dipahami. Internet memberikan akses informasi dan komunikasi yang luar biasa. Namun internet kemudian juga menciptakan persoalan privasi, kejahatan siber, manipulasi informasi, ketergantungan digital, pengawasan, dan penyebaran informasi palsu. Manusia kemudian menciptakan sistem keamanan siber, autentikasi, algoritma moderasi, regulasi privasi, teknologi deteksi penipuan, dan berbagai mekanisme lain untuk mengatasi problem yang sebagian muncul karena teknologi sebelumnya.

Ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Kaczynski benar secara keseluruhan. Tetapi ia menunjukkan sebuah mekanisme yang memang dapat terjadi: teknologi bukan hanya menyelesaikan masalah, melainkan juga dapat mengubah lingkungan sehingga menimbulkan sekumpulan masalah baru yang sebelumnya tidak ada.

Kaczynski bahkan tidak percaya bahwa persoalan tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dengan mengatakan, “Kita menggunakan teknologi secara bijaksana.” Menurutnya, jika suatu teknologi memberikan keuntungan ekonomi, politik, atau militer, kelompok yang menggunakannya akan memperoleh keunggulan terhadap kelompok yang tidak menggunakannya. Akibatnya pihak lain akan terdorong mengadopsi teknologi yang sama. Karena itu perkembangan teknologi menurutnya mempunyai dinamika yang sulit dihentikan hanya melalui keputusan individual.

Kaczynski juga memperkenalkan istilah surrogate activities, atau aktivitas pengganti. Menurutnya, ketika semakin banyak kebutuhan dasar manusia dapat dipenuhi tanpa perjuangan langsung, kebutuhan psikologis manusia untuk mempunyai tujuan dan berjuang tidak menghilang. Manusia kemudian menciptakan tujuan-tujuan lain yang sebenarnya tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup biologisnya.

Seseorang bisa mengejar karier, status, prestasi akademis, olahraga, bodybuilding, mengoleksi benda tertentu, memecahkan persoalan ilmiah, atau mengejar berbagai target lainnya. Semua aktivitas tersebut dapat memiliki nilai yang nyata, tetapi dalam kerangka Kaczynski sebagian aktivitas itu juga berfungsi sebagai pengganti perjuangan yang dahulu melekat langsung pada kebutuhan bertahan hidup. Ia melihat paradoks bahwa semakin mudah manusia memenuhi kebutuhan dasarnya, semakin manusia harus menciptakan tujuan baru untuk memperoleh kembali pengalaman perjuangan dan pencapaian.

Kaczynski kemudian menghubungkan perkembangan teknologi dengan munculnya organisasi yang semakin besar. Menurutnya, sebuah masyarakat teknologi yang kompleks tidak dapat berfungsi hanya berdasarkan kebebasan spontan setiap individu. Pesawat terbang, rumah sakit, pembangkit listrik, perbankan, jalan raya, internet, industri farmasi, dan sistem produksi massal membutuhkan standardisasi, prosedur, regulasi, koordinasi, pengawasan, serta kepatuhan.

Menurut Kaczynski, ini bukan semata-mata karena adanya birokrat yang ingin mengendalikan manusia. Kompleksitas sistem itu sendiri menuntut perilaku manusia untuk semakin teratur agar sistem tetap dapat bekerja. Dalam pandangan ini, teknologi tidak hanya memberi manusia alat, tetapi lambat laun menciptakan struktur sosial yang menentukan bagaimana manusia harus hidup.

Mobil merupakan contoh sederhana. Pada awalnya mobil memberikan kebebasan bergerak. Tetapi setelah kota, jalan, pusat perdagangan, permukiman, dan tempat kerja dibangun mengikuti pola penggunaan kendaraan bermotor, seseorang akhirnya membutuhkan kendaraan hanya untuk bisa menjalankan kehidupan sehari-harinya. Sesuatu yang semula menambah kebebasan kemudian menciptakan bentuk ketergantungan baru.

Hal yang sama dapat terjadi sekarang dengan artificial intelligence. Pada tahap pertama pertanyaannya adalah, “Apakah saya ingin menggunakan AI?” Tetapi jika perusahaan yang menggunakan AI menjadi jauh lebih produktif daripada perusahaan yang tidak menggunakannya, pertanyaannya berubah menjadi, “Apakah saya masih dapat bersaing apabila saya tidak menggunakan AI?”

Di sinilah saya mulai berbeda dengan kesimpulan Kaczynski. Menurut saya Kaczynski benar ketika melihat bahwa teknologi dapat menciptakan ketergantungan dan bahwa perkembangan teknologi mempunyai dinamika kompetitif. Bahkan Kaczynski sendiri mengakui bahwa persaingan antarnegara mendorong teknologisasi karena masing-masing pihak ingin menggunakan teknologi untuk mendapatkan keuntungan terhadap lawannya. Ia juga menyadari bahwa sebuah negara yang menghentikan perkembangan teknologi sementara negara lain terus maju dapat kehilangan kekuatan.

Namun menurut saya, justru pada titik inilah filsafat Kaczynski menemui kebuntuan. Ia mampu melihat persoalannya, tetapi belum mampu menemukan solusi yang realistis terhadap persoalan tersebut. Solusi untuk mengurangi atau menghancurkan sistem teknologi secara internasional tetap menghadapi kenyataan bahwa negara dan masyarakat mempunyai kepentingan yang berbeda serta saling berkompetisi. State juga saling bersaing dengan state yang lain. State yang lebih kuat akan mengalahkan dan melumat state yang lemah.

Bayangkan Negara A memutuskan untuk mengurangi perkembangan teknologi karena ingin mempertahankan kebebasan manusia dan kehidupan yang lebih sederhana. Negara B tidak mengikuti keputusan tersebut. Negara B terus mengembangkan ilmu pengetahuan, industri, kecerdasan buatan, teknologi komunikasi, organisasi pemerintahan, produksi, logistik, dan teknologi militer.

Setelah beberapa dekade, kemampuan kedua negara dapat menjadi sangat berbeda. Negara A mungkin mempertahankan tingkat otonomi individual yang lebih tinggi, tetapi pada saat yang sama kehilangan otonomi kolektifnya. Ia dapat menjadi bergantung secara ekonomi kepada Negara B, tidak mampu mempertahankan diri, atau bahkan kehilangan kedaulatannya.

Inilah kritik pertama saya terhadap Kaczynski. Ia melihat bahaya ketergantungan teknologi dengan cukup tajam, tetapi solusi meninggalkan atau menghancurkan sistem teknologi tidak menyelesaikan kenyataan bahwa masyarakat manusia tidak hidup sendirian. Negara, kelompok, dan peradaban hidup dalam suatu lingkungan kompetitif. Peradaban yang lebih maju selalu akan melumat peradaban yang lebih primitif dibawahnya.

Sejarah memberikan banyak contoh mengenai persoalan tersebut. Ketika pasukan Spanyol di bawah Francisco Pizarro memasuki wilayah Kekaisaran Inca, titik balik dramatis terjadi di Cajamarca pada 16 November 1532 ketika Atahualpa ditangkap. Cuzco kemudian jatuh pada 1533. Perlawanan Inca tidak langsung berakhir; sebuah negara sisa bertahan di Vilcabamba sampai pasukan Spanyol merebut wilayah tersebut dan menangkap Túpac Amaru pada 1572.

Jadi, saya tidak menggunakan kata teknologi hanya untuk menunjukkan bahwa Spanyol mempunyai senapan, baja, kuda, atau kapal yang lebih maju. Teknologi harus dipahami dalam pengertian yang lebih luas. Formasi perang adalah teknologi. Sistem komando adalah teknologi. Logistik adalah teknologi. Navigasi adalah teknologi. Strategi militer yang dapat diajarkan dan direplikasi adalah teknologi. Sistem administrasi, perpajakan, pembiayaan perang, pencatatan, organisasi tentara, intelijen, dan kemampuan menggerakkan manusia dalam jumlah besar juga merupakan teknologi.

Dengan kata lain, selain material technology, juga ada organizational technology, institutional technology, dan social technology. Teknologi dapat dipahami sebagai pengetahuan yang disistematisasikan agar manusia dapat mencapai suatu hasil dengan lebih efektif.

Spanyol tidak hanya membawa senjata yang lebih modern. Mereka membawa sistem perang, navigasi, organisasi, pengalaman militer, struktur komando, jaringan politik, serta kemampuan membuat aliansi. Pada saat yang sama kemenangan mereka juga sangat dibantu oleh epidemi penyakit Eurasia, perang saudara di dalam Kekaisaran Inca, dan keterlibatan kelompok-kelompok pribumi yang menjadi sekutu mereka. Karena itu penaklukan Inca tidak dapat direduksi hanya menjadi “senapan melawan tombak”. Yang berhadapan adalah sistem terhadap sistem.

Fenomena yang serupa terlihat dalam konflik antara Amerika dan berbagai bangsa Indian setelah Deklarasi Kemerdekaan Amerika pada 1776 dan terutama setelah pemerintahan federal baru mulai beroperasi berdasarkan Konstitusi pada 1789. Pada 1790, tentara Amerika di bawah Jenderal Josiah Harmar melakukan ekspedisi terhadap kekuatan Indian di wilayah perbatasan barat. Pada 1791 terjadi kekalahan besar pasukan Amerika dalam St. Clair’s Defeat, dan pada 1794 pasukan Amerika menghadapi konfederasi Indian di Battle of Fallen Timbers. Konflik terus berlangsung dalam berbagai bentuk sepanjang ekspansi Amerika ke barat hingga akhir abad ke-19, dengan Wounded Knee pada 1890 menjadi salah satu peristiwa penutup yang paling terkenal.

Sekali lagi, keunggulan Amerika tidak dapat dipahami hanya dari senjatanya. Amerika mempunyai pertumbuhan penduduk, produksi industri, jalan, kereta api, komunikasi, birokrasi, sistem logistik, kemampuan pajak, tentara yang semakin terorganisasi, dan kemampuan mengerahkan sumber daya dalam skala yang semakin besar. Berbagai bangsa Indian tidak hanya menghadapi prajurit dengan persenjataan berbeda, tetapi sebuah negara yang kapasitas organisasinya terus meningkat.

Hal yang sama terlihat dalam sejarah hubungan VOC dan Belanda dengan berbagai kerajaan serta masyarakat di Nusantara, dan kemudian dengan Indonesia setelah terbentuknya negara Indonesia. VOC didirikan pada 1602 dan selama hampir dua abad mengembangkan jaringan perdagangan, kekuatan militer, kapal, benteng, administrasi, keuangan, diplomasi, dan perjanjian politik di Nusantara. Setelah VOC dibubarkan pada akhir abad ke-18, sebagian besar wilayah kekuasaannya secara bertahap berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan berkembang menjadi Hindia Belanda. Kekuasaan kolonial Belanda terputus ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda berusaha membangun kembali kekuasaan kolonialnya, sehingga berlangsung konflik kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan pada 1949.

Belanda tidak menguasai Nusantara karena setiap orang Belanda secara individual lebih kuat atau lebih pintar daripada orang Indonesia. Salah satu sumber utama kekuatan mereka adalah kemampuan organisasi. VOC dapat menggabungkan modal, perdagangan, kapal, tentara, benteng, administrasi, sistem keuangan, diplomasi, jaringan informasi, dan logistik jarak jauh ke dalam satu struktur.

Jadi dalam banyak episode sejarah, yang bertarung sebenarnya bukan sekadar manusia melawan manusia. Yang bertarung adalah kapasitas sistem terhadap kapasitas sistem. Inilah sebabnya saya melihat perkembangan teknologi sebagai suatu proses evolusioner dan kompetitif.

Negara A menemukan sistem organisasi yang lebih efektif. Negara A mendapatkan keunggulan. Negara B dan Negara C mengamati keberhasilan tersebut dan meniru atau menciptakan sistem yang lebih baik. Negara A kemudian harus berinovasi kembali agar tidak tertinggal. Maka terbentuklah suatu civilizational capability race, yaitu persaingan mengenai siapa yang paling berhasil mengubah pengetahuan menjadi kemampuan kolektif.

Sebuah masyarakat bahkan tidak harus menyukai suatu teknologi agar akhirnya menggunakannya. Seorang pemimpin dapat membenci senjata nuklir tetapi tetap merasa perlu memilikinya karena lawannya mempunyai senjata nuklir. Seorang komandan dapat tidak menyukai penggunaan drone, tetapi ketika lawannya menggunakan drone secara efektif, ia harus mengembangkan drone atau teknologi untuk melawannya. Sebuah negara mungkin mengkhawatirkan dampak sosial artificial intelligence tetapi tetap mengembangkannya karena negara pesaing menggunakannya untuk meningkatkan ekonomi, ilmu pengetahuan, intelijen, dan kemampuan militernya.

Maka teknologi bukan hanya produk keinginan manusia untuk hidup lebih nyaman. Teknologi juga merupakan konsekuensi dari kompetisi antar-manusia dan antar-masyarakat. Karena itulah solusi Kaczynski untuk melakukan perubahan secara internasional tetap menghadapi problem yang belum terselesaikan.

Andaikan seluruh negara sepakat mengurangi teknologi, siapa yang dapat menjamin bahwa tidak ada satu negara pun yang melanggar kesepakatan dan diam-diam terus mengembangkan teknologi? Jika satu pihak melakukannya, keuntungan strategis yang diperolehnya dapat sangat besar. Mengetahui kemungkinan tersebut, pihak lain juga mempunyai insentif untuk tidak berhenti.

Dengan demikian terdapat dua bentuk otonomi yang dapat saling bertentangan. Ada otonomi individual, yaitu kemampuan manusia mengendalikan kehidupannya sendiri. Tetapi ada pula otonomi kolektif, yaitu kemampuan sebuah masyarakat mempertahankan keberadaan dan kedaulatannya di hadapan masyarakat lain. Mengurangi teknologi mungkin memperbesar bentuk pertama, tetapi apabila dilakukan secara sepihak dapat menghancurkan bentuk kedua.

Di samping persoalan kompetisi antarnegara, terdapat kritik kedua saya terhadap Kaczynski: ia cenderung meremehkan kemampuan manusia untuk beradaptasi terhadap teknologi. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi baru berkali-kali menimbulkan kepanikan karena masyarakat belum mengetahui dampaknya. Namun manusia kemudian membangun norma, regulasi, institusi, kebiasaan, dan teknologi pendamping sampai teknologi yang semula dianggap sangat mengganggu berubah menjadi bagian biasa dari kehidupan.

Mesin fotokopi merupakan contoh menarik. Teknologi xerografi dikembangkan oleh Chester Carlson pada 1938. Pada 1959 muncul Xerox 914, mesin fotokopi kertas biasa yang praktis dan kemudian menjadi sangat sukses. Kemampuan memperbanyak dokumen dengan cepat pada waktu itu merupakan perubahan besar dalam distribusi informasi.

Di Uni Soviet, kemampuan tersebut justru dipandang sebagai ancaman terhadap kontrol informasi negara. Mesin fotokopi dan perangkat reproduksi dokumen berada di bawah pengawasan ketat karena dapat digunakan untuk menggandakan samizdat, yaitu tulisan atau publikasi yang beredar di luar sistem sensor resmi. Aturan Soviet pada 1974 mengatur secara ketat pencetakan dan penggandaan dokumen, dan akses terhadap mesin fotokopi memerlukan pengawasan serta izin. Pemerintah khawatir teknologi tersebut memungkinkan tulisan politik yang tidak disetujui diperbanyak dan disebarkan dalam jumlah besar.

Namun yang terjadi kemudian sangat menarik. Pada Oktober 1989, Kementerian Dalam Negeri Soviet mulai melepaskan kontrol terhadap mesin fotokopi. Pemerintah sendiri mengakui bahwa mesin tersebut telah menjadi perangkat kantor yang semakin umum dan bahwa perkembangan komputer, scanner, printer laser, serta desktop publishing telah membuat sistem pengawasan lama semakin tidak masuk akal dan semakin sulit diterapkan.

Hari ini mesin fotokopi adalah alat bantu yang biasa-biasa saja. Kita tidak lagi memandang keberadaan sebuah mesin fotokopi di kantor sebagai ancaman luar biasa terhadap tatanan sosial. Contoh tersebut menunjukkan satu kelemahan dalam cara kita membaca kekhawatiran teknologi secara deterministik.

Ketika teknologi baru muncul, masyarakat sering kali melihat teknologi tersebut berdasarkan kemungkinan dampak ekstremnya. Tetapi masyarakat juga belajar. Manusia beradaptasi. Institusi beradaptasi. Hukum beradaptasi. Budaya beradaptasi. Teknologi lain juga berkembang untuk mengendalikan teknologi sebelumnya.

Karena itu saya tidak sepenuhnya menerima asumsi bahwa setiap bentuk ketergantungan teknologi pasti akan bergerak tanpa koreksi menuju hilangnya kebebasan manusia. Sistem sosial bukan benda mati. Manusia yang membangun sistem tersebut juga mempunyai kemampuan untuk mengubahnya.

Kita dapat melihat kemungkinan serupa sekarang pada artificial intelligence. Pada fase awal, kekhawatiran terhadap AI sangat besar dan sebagian memang beralasan. AI dapat menggantikan jenis pekerjaan tertentu, menghasilkan informasi palsu, memperbesar kapasitas pengawasan, memengaruhi pendidikan, atau membuat manusia terlalu bergantung kepada mesin dalam mengambil keputusan.

Tetapi kita belum mengetahui bentuk keseimbangannya setelah manusia hidup bersama teknologi tersebut selama beberapa dekade. Mungkin sebagian kemampuan manusia akan hilang. Tetapi mungkin pula muncul profesi baru, norma baru, pendidikan baru, regulasi baru, dan cara baru menggunakan AI yang saat ini belum dapat kita bayangkan.

Sejarah teknologi mengajarkan bahwa manusia bukan hanya korban pasif dari teknologi. Manusia juga merupakan makhluk yang mempunyai kemampuan adaptasi sangat tinggi. Karena itu, menurut saya Kaczynski benar dalam diagnosis tertentu tetapi terlalu jauh dalam prognosisnya.

Tetapi dua persoalan besar tetap tidak terpecahkan dalam filsafatnya. Pertama, manusia hidup dalam masyarakat-masyarakat yang saling berkompetisi. Sebuah masyarakat tidak dapat begitu saja meninggalkan teknologi apabila masyarakat lain terus meningkatkan kemampuan teknologi dan organisasinya. Kedua, manusia mempunyai kemampuan untuk beradaptasi. Teknologi yang pada suatu masa tampak akan mengubah tatanan kehidupan secara mengerikan dapat, setelah melewati proses adaptasi sosial, menjadi alat yang normal dan dapat dikendalikan.

Oleh karena itu saya tidak melihat filsafat Kaczynski sebagai cetak biru untuk membangun masyarakat. Nilai terbesarnya justru berada pada tempat yang lebih sederhana, yaitu sebagai sebuah side note , sebuah catatan samping dalam perjalanan peradaban manusia, agar manusia tidak terlalu mudah menyerahkan seluruh kehidupannya kepada sistem teknologi.

Kita tidak perlu menjadi anti-teknologi untuk menerima sebagian peringatannya. Posisi yang menurut saya lebih realistis adalah bukan menolak teknologi, melainkan menolak ketergantungan total terhadap teknologi.

Teknologi harus terus dikembangkan karena sains, teknologi, organisasi, dan institusi merupakan bagian dari kapasitas suatu masyarakat untuk mempertahankan kesejahteraan, keamanan, daya saing, dan kedaulatannya. Tetapi dalam proses tersebut manusia tetap harus mempertahankan kemampuan dasarnya agar teknologi menjadi alat, bukan menjadi satu-satunya fondasi kemampuan manusia.

Theodore Kaczynski melihat satu sisi dari dilema itu dengan cukup tajam. Ia melihat bahwa manusia dapat menciptakan sebuah sistem yang pada akhirnya memaksa manusia menyesuaikan diri kepada sistem tersebut. Tetapi ia belum menemukan solusi yang memadai. Masalahnya bukan kemajuan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia mempertahankan agency, resilience, dan kemampuan mengendalikan teknologi di tengah perlombaan teknologi yang tidak mungkin dihentikan begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.