Ketika Keris Dianggap “TIDAK COCOK” dengan Pemiliknya

Rezanades MIB, MM

Dalam tradisi perkerisan Jawa, keris tidak selalu dipandang semata-mata sebagai senjata atau benda seni. Di kalangan tertentu dikenal pula konsep ESOTERI KERIS: keyakinan bahwa setiap keris mempunyai karakter, watak, atau pengaruh tertentu, sehingga sebuah keris dapat dianggap cocok bagi seseorang tetapi belum tentu cocok bagi orang lain.

Konsep “cocok” dan “tidak cocok” ini sudah lama menjadi bagian dari percakapan di dunia perkerisan. Karena itu, ketika seseorang merasa kurang nyaman setelah menerima atau menyimpan suatu keris, sebagian kalangan tradisional tidak serta-merta menilai keris tersebut buruk. Bisa saja, menurut keyakinan mereka, karakter keris dan pemiliknya memang tidak sesuai.

Ada beberapa pengalaman yang pernah dipublikasikan dan menarik untuk diperhatikan.
Salah satunya datang dari POPPY DHARSONO. Dalam wawancara dengan OTC Digest, Poppy menceritakan pengalaman ketika tinggal di Prancis. Seorang seniman Indonesia menitipkan sejumlah barang kepadanya, termasuk BEBERAPA BUAH KERIS. Menurut Poppy, kesehatannya kemudian mendadak terganggu dan ia juga mengalami sejumlah kejadian tidak menyenangkan. Ketika keris-keris tersebut kemudian diambil kembali, ia mengatakan bahwa sakit yang dialaminya menghilang.

Tentu pengalaman tersebut merupakan KESAKSIAN PRIBADI. Tidak ada pemeriksaan ilmiah yang membuktikan bahwa kerislah yang menyebabkan gangguan kesehatannya. Namun, kisah tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana gagasan mengenai ketidakcocokan keris masih muncul bahkan pada orang yang hidup dalam lingkungan modern.

Cerita lain berasal dari PROF. SUWARDI ENDRASWARA, Guru Besar Sastra Jawa Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam sebuah webinar mengenai keris, ia menceritakan pengalaman menyimpan keris yang menurutnya menimbulkan suasana tidak nyaman di rumah. Ibunya juga mengalami sakit selama berbulan-bulan.

Suwardi mengatakan bahwa dalam tradisi esoteris keris, kondisi seperti itu dapat ditafsirkan sebagai kurangnya laku pemilik atau karena keris tersebut memang tidak cocok. Keris itu akhirnya dikembalikan dan, menurut pengalamannya, suasana rumah kembali normal serta ibunya kemudian sembuh.

Pandangan serupa juga dapat ditemukan pada pengalaman RYAAS RASYID, yang dikenal sebagai kolektor ratusan keris dan tosan aji. Dalam sebuah wawancara tentang koleksinya, Ryaas mengatakan bahwa menurut pemahaman yang ia peroleh dari gurunya, tidak semua keris layak disimpan.

Ia bahkan menyebut adanya keris yang menurut kepercayaan tersebut dapat membawa ketidaknyamanan, kesialan, atau sakit kepada pemiliknya. Karena itu, setiap memperoleh keris baru, ia biasa meminta orang yang dianggap memahami keris untuk menilainya terlebih dahulu.

Menariknya, kisah Ryaas juga menunjukkan sesuatu yang penting: BANYAKNYA JUMLAH KERIS TIDAK OTOMATIS DIANGGAP SEBAGAI MASALAH.
Ia sendiri menyimpan ratusan keris. Dalam cara pandang tradisional tersebut, persoalan lebih sering dikaitkan dengan KERIS TERTENTU, WATAKNYA, SERTA KECOCOKANNYA DENGAN PEMILIK, bukan semata-mata jumlah koleksi.

Dalam TRADISI PERKERISAN LAMA, yang jejaknya dapat ditemukan dalam LITERATUR KUNO dan diwariskan pula secara lisan dari generasi ke generasi, dikenal sebuah konsep yang dimaksudkan sebagai penyeimbang, yaitu PUSAKA TINDIH atau TINDHIH.

Menurut kepercayaan yang berkembang di kalangan penggemar tosan aji, apabila terdapat pusaka yang dianggap membawa pengaruh kurang baik atau tidak cocok dengan pemiliknya, pengaruh tersebut dipercaya dapat “ditindih” atau diredam oleh pusaka lain yang mempunyai kedudukan sebagai pamomong. Pusaka tindih dapat berupa keris maupun tombak. Di antara yang umum disebut sebagai tosan aji tindih adalah KERIS BETHOK dan KERIS KABUDHAN.

Istilah tindih bukan semata-mata berarti bahwa satu pusaka “melawan” pusaka lainnya. Dalam pemahaman tradisional, kedudukannya lebih menyerupai hadirnya sosok yang dituakan atau dianggap memiliki kewibawaan untuk MENENANGKAN DAN MENYEIMBANGKAN pusaka-pusaka lain dalam satu kumpulan. Karena itu, pusaka tindih sering pula dipahami sebagai semacam PAMOMONG. Secara filosofis, konsep tersebut dapat dianalogikan dengan kedudukan SEMAR dalam jagad pewayangan Jawa.

Semar merupakan figur yang menyatukan berbagai unsur yang tampaknya berlawanan. Ia digambarkan sebagai laki-laki, tetapi tubuhnya mempunyai ciri yang menyerupai perempuan, antara lain dada seperti payudara. Pada saat yang sama, rambutnya berkuncung, ciri yang secara tradisional dilekatkan pada laki-laki atau anak lelaki. Dalam berbagai penafsiran, sosok Semar kemudian menjadi simbol pertemuan unsur MASKULIN DAN FEMININ, TUA DAN MUDA, SUKA DAN DUKA, serta berbagai pasangan yang tampaknya bertentangan.

Namun berbagai unsur yang berlawanan tersebut justru tidak menjadikan Semar sebagai sumber pertentangan. Sebaliknya, ia hadir sebagai PAMOMONG DAN PENYEIMBANG. Dalam pengertian filosofis seperti inilah pusaka tindih dapat dipahami. Di antara berbagai pusaka yang dipercaya mempunyai karakter berbeda-beda, pusaka tindih ditempatkan seperti sosok “Semar”: bukan untuk menghilangkan keberadaan pusaka lainnya, tetapi untuk MENJAGA KESEIMBANGAN DI ANTARA MEREKA.

Tentu gagasan bahwa pusaka tindih dapat meredam pengaruh negatif pusaka lain tetap berada dalam wilayah TRADISI PERKERISAN, KEPERCAYAAN, DAN ESOTERI, yang jejaknya diwariskan melalui literatur lama maupun tradisi oral antargenerasi. Namun sebagai konsep budaya, keberadaan gagasan mengenai pusaka tindih memperlihatkan bahwa tradisi perkerisan tidak hanya mengenal persoalan “cocok” dan “tidak cocok”, tetapi juga mengenal gagasan mengenai PAMOMONG DAN KESEIMBANGAN.

Karena itu, dalam tradisi perkerisan biasanya muncul beberapa kemungkinan ketika seseorang merasa kurang nyaman setelah memiliki keris: keris dianggap tidak sesuai dengan pemilik, karakter beberapa pusaka dianggap tidak serasi satu sama lain, pemilik dianggap belum memahami cara memperlakukan pusaka tersebut, atau sebenarnya sama sekali tidak ada hubungan antara keris dan masalah yang sedang dialami.

Poin terakhir sangat penting. BELUM ADA BUKTI ILMIAH YANG MENUNJUKKAN BAHWA “ENERGI KERIS” DAPAT MENYEBABKAN PENYAKIT FISIK.
Perubahan kondisi seseorang setelah memindahkan sebuah benda juga bisa disebabkan oleh banyak hal lain: kualitas tidur, stres, kecemasan, perubahan lingkungan, sugesti, efek ekspektasi, atau kebetulan.

Karena itu, bila seseorang mencurigai ada keris yang tidak cocok, cara yang paling rasional bukan langsung takut ataupun membuang pusaka tersebut. Salah satu pendekatan yang relatif aman adalah MEMINDAHKANNYA SEMENTARA KELUAR RUMAH, kemudian mengamati keadaan secara tenang. Apabila mempunyai banyak keris, pemindahan dapat dilakukan bertahap sehingga perubahan yang dirasakan lebih mudah diamati.

Pendapat dari orang yang lama berkecimpung dalam dunia keris juga dapat menjadi bahan pertimbangan. Namun untuk persoalan esoteris, kehati-hatian tetap diperlukan. Tidak ada sertifikasi atau metode ilmiah yang dapat memastikan seseorang benar-benar mampu “membaca” kecocokan sebuah keris. Karena itu, pengetahuan mengenai dapur, pamor, tangguh, sejarah, dan tradisi keris lebih mudah diuji daripada klaim mengenai energi atau hal gaib.

Pada akhirnya, konsep “KERIS TIDAK COCOK DENGAN PEMILIKNYA” MEMANG MERUPAKAN BAGIAN NYATA DARI TRADISI DAN KEPERCAYAAN PERKERISAN NUSANTARA, dan ada sejumlah orang yang menceritakan pengalaman pribadi yang mereka hubungkan dengannya. Tetapi pengalaman-pengalaman tersebut sebaiknya dipandang sebagai KESAKSIAN DAN TRADISI, BUKAN SEBAGAI KENISCAYAAN.

Sikap yang paling bijaksana mungkin berada di tengah: TIDAK PERLU MEREMEHKAN PENGALAMAN SESEORANG, TETAPI JUGA TIDAK BURU-BURU MENYIMPULKAN BAHWA SETIAP GANGGUAN FISIK ATAU MASALAH KEHIDUPAN PASTI BERASAL DARI KERIS. Kalau SETELAH SEBUAH KERIS DIPINDAHKAN KE LUAR RUMAH seseorang merasa lebih nyaman, setidaknya ada satu hal yang sudah jelas: LINGKUNGAN BARUNYA TERASA LEBIH BAIK BAGI DIRINYA. PENYEBAB SEBENARNYA DAPAT TETAP TERBUKA UNTUK DITELAAH.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.