OPIUM

Mengingat kata OPIUM membawa saya kembali pada kenangan 8 tahun yang lalu , ketika ada seorang adik kelas saya yang bertanya buku apa saja yang saya suka baca. “mmm….Opini Umumnya Walter Lippmann”, saya jawab. “Opium ?!,….Loe juga suka baca Opium Za ?”, “Eh…Opium ? “, saya tidak tahu kalau buku itu biasa disebut begitu. “Mungkinkah ‘Opium’ itu sudah banyak beredar dikalangan Mahasiswa Komunikasi hingga akrab diberi julukan seperti itu ? yaa entahlah….”, dalam benak saya sembari berlalu menggeleng kepala.

Buku tersebut banyak menyentuh hati saya tentang dunia komunikasi massa dan ilmu sosial, apalagi buat mahasiswa yang masih polos dan lempeng- lempeng saja jalan pikirannya. Walau saat itu tidak semua isinya dapat saya mengerti , Opium membicarakan bagaimana Opini Umum suatu masyarakat dapat direkayasa sedemikian rupa demi kepentingan golongan tertentu dan mengabaikan gambaran obyektif dari sekian informasi faktual yang ada. Termasuk tentang lingkungan palsu yang ada disekeliling kita dan atas semua yang kita percayai. Opini Umum kita terhadap sesuatu , baik itu benar ataupun salah akan mempengaruhi tindakan kita. Itulah sebabnya Opini Umum penting untuk digiring agar sejalan dengan kepentingan golongan tertentu atas nama : Negara, Pemerintah, Bangsa atau golongan tertentu dan lain- lain.

Adalah Walter Lippmann (1889-1974) pengarang buku ini, wartawan politik AS lulusan Harvard yang tajam pemikirannya dan termasuk berpengaruh di lingkungan praktisi politik AS. Selain perjalanan karirnya sebagai wartawan, ia pernah membantu merancang Fourteen Points untuk Presiden Woodrow Wilson yang dibacakan di depan Kongres AS di Januari 1918 dan kemudian menjadi dasar syarat menyerahnya Jerman pada perundingan Paris Peace Conference ,1919. Ia juga pernah bekerja sebagai penulis pidato untuk sejumlah politisi.

Diantara sejumlah karya-karya dan gagasannya yang paling menarik adalah ialah yang pertama kali menciptakan dan mendefinisikan kata “Stereotype” didalam buku ini yang dalam bahasa Inggrisnya adalah “Public Opinion”. Lippmann menegaskan bahwa Stereotype ada di sekeliling kita dan mempengaruhi cara pandang kita terhadap segala sesuatu. Adalah berkat analisisnya kita memahami definisi stereotype sekarang seperti yang ia jelaskan dari tahun 1922 dahulu. Sejak penerbitan buku ini, terminologi Stereotype kemudian menjadi popular dan merajut ke berbagai bidang disiplin ilmu dari : Psikologi sosial, sosiologi, sastra , politik dan lain- lain. Hingga kemudian menjadi terminologi yang ‘generik di bidang ilmu sosiologi hingga kita menyangkanya bahwa ia adalah hasil karya dari para Sosiolog, padahal ia adalah murni hasil intelektual dari seorang wartawan.

Diantara gagasan dalam Opini Umumnya ( Opium) menurut Lippmann masyarakat cenderung menerima fakta bukan sebagaimana adanya, akan tetapi apa yang mereka anggap sebagai fakta; kenyataan fatamorgana atau lingkungan palsu. Distorsi- distorsi datang tidak hanya dari faktor- faktor emosional dan kebutuhan ego saja, tetapi juga dari stereotip- stereotip, gambaran yang kita miliki tentang para tokoh figur publik dan produk materi. Kebanyakan,” kita tidak melihat dulu baru kemudian merumuskan, tetapi kita merumuskan dulu barulah kemudian melihat. Kita cenderung melihat apa yang kita pilih dalam bentuk yang di-stereotipkan untuk kita dan oleh kebudayaan kita.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.